Tuhan memang maha
pembuat hadiah yang mengagumkan. Dia menghadiahkan kamu padaku.
Persahabatan kita.
Kuhirup seleluasa
mungkin udara segar pagi hari sambil lari-lari. Aktivitas yang membuat senyum
lebar mengembang bersama hariku yang segar kembali. Sejenak aku menghentikan
lariku dan mendekati serumpun rumput liar di pinggir sawah, membuatku tenggelam
dalam kenangan enam tahun yang lalu, dialah freezy dew, sahabat terdekat kala
itu sebelum semuanya berubah dan kami terpisah ruang dan aku kehilangan
komunikasi dengannya.
@
Hujan lebat tiba-tiba
menerjang kami yang sedang pulang dari les menjelang UAN.
“Heii. Kenapa ada
kiriman kilat dari langit nih.” Sungut Keysha sahabatku sebal sembari melihat
kearah langit.
“Udahlah, mampir warung
dulu yuk.” Tanpa persetujuannya aku langsung menariknya.
“Pesen apa kamu?” aku meneliti tiap jengkal
menu yang ada di kertas list makanan dan minuman. Aku terkikik membaca list
menu dengan nama-nama yang aneh, ada es jus hola-holahop, es buah dewa kubur,
nasi goreng tay kuch-kuch, nah nih paling unik mie pelangi pelanga-pelongo.
Keysha menyodok
lenganku. “Aooow, pa’an sih?”
Keysha membekap
telinganya sewaktu sinar kilat dan suara gemuruh petir berdentam-dentam di
langit. Aku melihat kearahnya sambil tertawa tapi sedetik kemudian tawaku
hilang. “Kemana cincin persahabatan kita?”
“Ooh ituu, nggak tahu
hilang. Udah dua hari yang lalu.”
“Kok bisa?”
“Nggak tahu, lupa naruh
kali.” Keysha menggeleng seakan tak peduli.
“Kamu tuh paling nggak
bisa ya merawat sesuatu, jangankan benda mati seperti kalung dan cincin, benda
idup pun kamu juga nggak bakal bisa, kucing lucuku mati tertabrak motormu, marmut
manisku mati ketimpa tasmu, semuaaaaa bentuk persahabatan kita kamu emang nggak
bisa jaga.” Intonasi suaraku meninggi.
Pada akhirnya aku
mendahuluinya untuk keluar dari warung menembus hujan dan berlari dengan amarah
yang menggelegak tapi dia tak menyusulku. Setelah itu persahabatan kami jadi
berbeda selama berminggu-minggu.
@
UAN telah berlalu tapi
sebelum pengumuman Keysha pergi mengikuti ayahnya yang dinas di luar pulau jawa
dan dia hanya meninggalkanku secarik kertas.
“Maaf ya Sunny Sun
(panggilan untukku) aku mungkin nggak bisa menjaga apa yang kau berikan dalam
bentuk persahabatan kita tapi satu yang akan ku jaga sepenuh cinta dalam
sekeping hatiku: persahabatan kita.”
Permintaan maaf sungguh
menghasilkan hal lucu. Dia menghangatkan hati dan mendinginkan rasa marah.
Sebenarnya bukan karena secarik kertas itu melainkan aku sadar, persahabatan
tak dilihat dari bentuk fisiknya saja tapi dari dalam ketulusan hati. Terima
kasih karena kau telah membuatku melihat setengah pelangi yang hilang dari
surga. Maaf terlambat untuk menyadarinya. Sungguh rasa rindu dan kehilangan ini
masih ku peluk erat freezy dew.

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus