Minggu, 05 Agustus 2012

JALINAN KASIH DARIMU


'Cause there's something in the way you look at me, It's as if my heart knows you're the missing piece. You make me believe that there's nothing in this world I can't be, I'd never know what you see. But there's something in the way you look at me. I don't know how or why, I feel different in your eyes. All I know is that it happens every time.
Ma pernah menyanyikan lagu ini untukku tapi aku tidak tahu apa artinya, mungkin besok atau lusa aku akan minta Ma membelikanku kamus bahasa inggris dan mengajariku agar aku bisa mengerti artinya.
@@@
Sejak aku bisa mengingat, Ma adalah perempuan hebat yang mengajariku banyak hal. Bersama Ma aku bisa dengan mudah melukis selarit senyum dari kehidupan yang menghangatkan, bersama Ma pula aku belajar arti satu sama lain. Ma membuatku mampu menerima jalinan kasih yang teramat indah.
“Mia, kau akan bengong terus seperti itu ya?”
Aku nyengir menampakkan sederet gigi jagung putih yang rapi. “Hehe, Ma ingin dibantu apa?” tanyaku sembari berangsur mendekati Ma yang sedang sibuk dengan baju seterika yang menggunung.
“Ma cuma negur kamu yang sedang asyik bengong aja, liat apa’an sih di TV?”
“Boleh aku minta uang Ma? Es krim tadi sepertinya lezat.” Rajukku manja padanya.
Ma manyun dan tersenyum. “Ma akan buatkan makanan bergizi buat kamu sayang, es krim buah, mau?”
Aku mengangguk dengan cepat. “Waaaa, asyik sekali. Aku suka semua makanan Ma, Ma pintar sekali memasak. Aku sayang Ma, karena selain pintar memasak, Ma pintar membuatku bahagia. Nanti aku bantu deh.”
Ma mengusap rambutku. Hal yang paling aku sukai, kemudian Ma mengecup kepalaku. Kebiasaan ini selalu dilakukan Ma semenjak Papa dan Mama bercerai dan aku lebih memilih Ma. Semua orang setuju dan membiarkanku memilih, dengan begitu kata mereka: aku bisa menentukan jalan kebahagianku sendiri.

Ma bekerja sangat keras untukku meski begitu tak sedikitpun ketika dia lelah menampakkan raut yang dapat membuatku khawatir, malah terkadang ketika dia sakit aku sama sekali tak tahu apa-apa. Sampai kemudian aku akan menangis melihatnya.
“Kenapa menangis?” Tanya Ma yang sedang berbaring dengan suhu tubuh diatas manusia normal.
“Aku jahat ya Ma?” Tanyaku diantara tangis yang berderai.

“Tidak sayang, mana mungkin anak manis sepertimu jahat? Kamu bidadari mungil Ma yang manis.”
“Lalu kenapa Ma bisa sakit? Aku nggak suka lihat Ma sakit.”
Ma tersenyum hangat sambil merengkuhku. “Sayang, Tuhan sedang memberikan hadiah untuk Ma. Kata Tuhan jika Ma bisa sabar dan ikhlas setelah sakit ini dosa Ma akan berkurang.”
Mataku berbinar. “Kalau begitu aku mau sakit. Kalau dosa Ma banyak, aku mau ikut bantu menguranginya.”
Ma tertawa lirih. “Setiap dosa orang lain tidak bisa ditanggung kamu. Seperti dosa Ma yang tidak bisa dibagi atau ditanggung dengan kamu sayang, setiap orang kebaikan dan keburukannya akan ditanggung sendiri dan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.”
“Ma pintar.” Aku memeluknya dengan erat. “Aku mau menjadi seperti Ma, Ma perempuan hebat yang aku kagumi.”
“Kau anak yang spesial sayang.”
Aku tahu dalam darahku tak mengalir darah Ma tapi dalam jalan hidupku Ma telah mengaliri hidupku dengan kasih cintanya yang seluas bumi, setinggi langit dan sedalam samudra. Untuk itu aku tahu banyak hal yang membuatku mampu berjalan tegak tanpa takut tersandung karena kata Ma orang yang pernah berjalan tegak adalah orang yang pernah berjalan dengan tersandung-sandung.
Meski Ma bukan Mamaku dan meski Ma hanyalah pengasuhku, aku tetap akan mencintaimu seperti mamaku sendiri, Maryam.
Aku tidak membencimu Papa, aku juga tidak ingin balas dendam padamu Mama, aku sayang kalian juga meski kalian tidak menginginkanku dan sangat menyuruhku untuk ke SLB Tunagrahita asrama tapi Ma membuat keputusan lain (ia yang telah menjadi pengasuhku sejak aku bayi): katanya dia yang melihatku mempunyai keistimewaan memohon pada Mama dan Papa untuk mengasuhku dan bertempat tinggal dirumahnya meskipun ia tak menolak aku bersekolah disana.
“Ini untuk kebaikanmu Sayang.” Ujar Ma kembali membelai rambutku dan mengecup kepalaku. “Ma juga akan mengajarimu banyak hal, kita belajar bersama ya sayang.”
Ma aku sayang sekali padamu.
This entry was posted in

0 komentar:

Posting Komentar