'Cause there's something in the way
you look at me, It's
as if my heart knows you're the missing piece. You make
me believe that there's nothing in this world I can't be, I'd never
know what you see. But there's something in the way you look at me. I don't
know how or why, I feel different in your eyes. All I
know is that it happens every time.
Ma pernah menyanyikan lagu ini untukku
tapi aku tidak tahu apa artinya, mungkin besok atau lusa aku akan minta Ma
membelikanku kamus bahasa inggris dan mengajariku agar aku bisa mengerti
artinya.
@@@
Sejak
aku bisa mengingat, Ma adalah perempuan hebat yang mengajariku banyak hal.
Bersama Ma aku bisa dengan mudah melukis selarit senyum dari kehidupan yang menghangatkan,
bersama Ma pula aku belajar arti satu sama lain. Ma membuatku mampu menerima
jalinan kasih yang teramat indah.
“Mia,
kau akan bengong terus seperti itu ya?”
Aku
nyengir menampakkan sederet gigi jagung putih yang rapi. “Hehe, Ma ingin
dibantu apa?” tanyaku sembari berangsur mendekati Ma yang sedang sibuk dengan
baju seterika yang menggunung.
“Ma
cuma negur kamu yang sedang asyik bengong aja, liat apa’an sih di TV?”
“Boleh
aku minta uang Ma? Es krim tadi sepertinya lezat.” Rajukku manja padanya.
Ma
manyun dan tersenyum. “Ma akan buatkan makanan bergizi buat kamu sayang, es
krim buah, mau?”
Aku
mengangguk dengan cepat. “Waaaa, asyik sekali. Aku suka semua makanan Ma, Ma
pintar sekali memasak. Aku sayang Ma, karena selain pintar memasak, Ma pintar
membuatku bahagia. Nanti aku bantu deh.”
Ma
mengusap rambutku. Hal yang paling aku sukai, kemudian Ma mengecup kepalaku.
Kebiasaan ini selalu dilakukan Ma semenjak Papa dan Mama bercerai dan aku lebih
memilih Ma. Semua orang setuju dan membiarkanku memilih, dengan begitu kata
mereka: aku bisa menentukan jalan kebahagianku sendiri.
Ma
bekerja sangat keras untukku meski begitu tak sedikitpun ketika dia lelah
menampakkan raut yang dapat membuatku khawatir, malah terkadang ketika dia
sakit aku sama sekali tak tahu apa-apa. Sampai kemudian aku akan menangis
melihatnya.
“Kenapa
menangis?” Tanya Ma yang sedang berbaring dengan suhu tubuh diatas manusia
normal.
“Aku
jahat ya Ma?” Tanyaku diantara tangis yang berderai.
“Lalu kenapa Ma
bisa sakit? Aku nggak suka lihat Ma sakit.”
Ma tersenyum
hangat sambil merengkuhku. “Sayang, Tuhan sedang memberikan hadiah untuk Ma.
Kata Tuhan jika Ma bisa sabar dan ikhlas setelah sakit ini dosa Ma akan
berkurang.”
Mataku berbinar.
“Kalau begitu aku mau sakit. Kalau dosa Ma banyak, aku mau ikut bantu
menguranginya.”
Ma tertawa
lirih. “Setiap dosa orang lain tidak bisa ditanggung kamu. Seperti dosa Ma yang
tidak bisa dibagi atau ditanggung dengan kamu sayang, setiap orang kebaikan dan
keburukannya akan ditanggung sendiri dan dipertanggungjawabkan di hadapan
Tuhan.”
“Ma pintar.” Aku
memeluknya dengan erat. “Aku mau menjadi seperti Ma, Ma perempuan hebat yang
aku kagumi.”
“Kau anak yang
spesial sayang.”
Aku tahu dalam
darahku tak mengalir darah Ma tapi dalam jalan hidupku Ma telah mengaliri
hidupku dengan kasih cintanya yang seluas bumi, setinggi langit dan sedalam
samudra. Untuk itu aku tahu banyak hal yang membuatku mampu berjalan tegak
tanpa takut tersandung karena kata Ma orang yang pernah berjalan tegak adalah
orang yang pernah berjalan dengan tersandung-sandung.
Meski
Ma bukan Mamaku dan meski Ma hanyalah pengasuhku, aku tetap akan mencintaimu
seperti mamaku sendiri, Maryam.
Aku
tidak membencimu Papa, aku juga tidak ingin balas dendam padamu Mama, aku sayang
kalian juga meski kalian tidak menginginkanku dan sangat menyuruhku untuk ke
SLB Tunagrahita asrama tapi Ma membuat keputusan lain (ia yang telah menjadi
pengasuhku sejak aku bayi): katanya dia yang melihatku mempunyai keistimewaan
memohon pada Mama dan Papa untuk mengasuhku dan bertempat tinggal dirumahnya
meskipun ia tak menolak aku bersekolah disana.
“Ini
untuk kebaikanmu Sayang.” Ujar Ma kembali membelai rambutku dan mengecup
kepalaku. “Ma juga akan mengajarimu banyak hal, kita belajar bersama ya
sayang.”
Ma
aku sayang sekali padamu.

0 komentar:
Posting Komentar