Bahkan sungguh, aku memastikan jika semuanya telah baik. Kau dalam gemuruhmu dan aku yang terbakar cemburu.
Bersilang tukar antara rasa, janji dan nyata.
Hei, tak sungguhkah kau tak mengerti bahwa rautku meranum dan kadang menjamur?
Yah, dan pada akhirnya waktu menceritakan kronologinya padamu
tentangnya, tentang kamu,
dan bukan aku
tak pantaslah kau bersanding dengannya
sedangkan cinta menjembatani kalian untuk saling bertahta. Kau bilang itu bukan pilihan? *aku menahan nafas. Menukarnya dengan duri yang kemudian tersemat.
"Ga, Aku butiran debu. Dan biarkan aku terbang. Terburai buai kenangan. Biar kuselisip terus, antaranya. Dia dan Dia."
Kali ini aku berkata, "untung bukan aku, sebab, jika kau butiran debu. Aku tak lagi bisa menatapmu, menatap teduhmu."
Butiran Debu
Namaku cinta ketika kita bersama
Berbagi rasa untuk selamanya
Namaku cinta ketika kita bersama
Berbagi rasa sepanjang usia
Hingga tiba saatnya aku pun melihat
Cintaku yang khianat, cintaku berkhianat
Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi
Aku tenggelam dalam lautan luka dalam
Aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang
Aku tanpamu butiran debu
Namaku cinta ketika kita bersama
Berbagi rasa untuk selamanya
Namaku cinta ketika kita bersama
Berbagi rasa sepanjang usia
Hingga tiba saatnya aku pun melihat
Cintaku yang khianat, cintaku berkhianat ooh
Menepi menepilah menjauh
Semua yang terjadi di antara kita ooh
Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi
Aku tenggelam dalam lautan luka dalam
Aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang
Aku tanpamu butiran debu
(aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi
Aku tenggelam dalam lautan) dalam luka dalam
Aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang
Aku tanpamu butiran debu, aku tanpamu butiran debu
Aku tanpamu butiran debu, aku tanpamu butiran debu

0 komentar:
Posting Komentar