Diamanahi untuk memegang rubrik parenting dan samara di Majalah Cahaya Hati adalah tantangan luar biasa.
Awal mendapat amanah ini, apalagi untuk seseorang yang belum menikah dulu, seperti mendapat sebuah batu.
Jika saya tak bisa mengukir batu itu, maka batu itu hanya akan jadi batu biasa. Namun, jika saya bisa mengukirnya, batu itu bisa jadi apapun yang saya inginkan. Ada yang jadi hiasan dinding, hiasan meja tamu, hiasan teras, dan lain lain.
Nilainya sudah berubah. Batu biasa akan dinilai sebagai batu. Dikilokan. Batu yang sudah diubah dinilai sesuai hasil prosesnya. Dihargai per item.
Alhamdulillah, atas izin Allah amanah itu malah membuat diri saya makin paham. Terutama dalam menghadapi sebuah masalah.
Saya lebih bisa mempersiapkan diri bagaimana menjadi seorang istri dan seorang ibu yang baik. Mendapati banyak hal dalam rumah tangga, yang mungkin lebih sering terjadi beda pendapat. Bagaimana menyikapi, problem solving apa yang harus didahulukan.
Saya tergerak untuk bergerak. Agar bisa tumbuh dan berkembang. Saya pun akhirnya mengelola grup WA Parenting with Heart. Alhamdulillah sudah ada 3 grup.
Di sana akan ada banyak pembahasan tentang parenting dan samara.
Ingat betul saya, ketika narasumber samara, bu Pur, mengatakan, "kamu dan suami adalah orang yang berbeda. Meskipun dalam pernikahan jiwanya melebur. Tak serta merta membuat perbedaan pola asuh orang tua masing-masing langsung lebur juga."
Hal yang akhinya terjadi adalah CEKCOK.
Pihak suami dan pihak istri merasa dirinya benar. Tak ada yang mau mengalah.
Padahal kalau diingat bagaimana perasaan pertama setelah menikah. InsyaAllah semua hal baik akan terlihat. Hal buruk itu setitik saja. Kadang hanyalah hal sepele.
Jangan sampai kita menjadi pasangan yang lebih mengingat keburukan daripada kebaikan.
Saat saat marah dan kecewa bergumul dalam dada. Ambillah jeda. Keluar dari zona emosimu. Pikirkan bahwa ada 1001 alasan mengapa pasangan berlaku demikian. Ada 1001 alasan juga memaafkan jika memang itu tidak melanggar syar'i.
Milikilah cinta yang santun.
Ianya tak akan pernah berteriak. Selalu lembut. Penuh kasih.
Ianya tahu ada saatnya pasangan memiliki emosi negatif yang terkadang muncul. Pahamilah. Semakin memahami, semakin luas kelapangan dada.
Ianya tak pernah berburuk sangka. Sebab ia tahu ketulusan cinta pasangan sedang menguji dan diuji. Jangan mau kalah.
Ianya hanya butuh ruang untuk melepaskan kepenatan. Meski terkadang dan seringnya tidak seperti yang kita inginkan.
Memangnya apa yang kita harapkan dengan memiliki pasangan? Memiliki suami tepatnya, jika yang membaca adalah seorang istri.
Ingin dimanja?
Ingin diperlakukan ratu?
Ingin dicintai?
Ingin dihargai?
Maka lakukan itu untuknya terlebih dulu. Doakan semoga hatinya lembut sehingga perhatian kita sampai padanya.
Dedikasi suami itu sungguh luar biasa
Ia sediakan diri menjadi tameng kita dari neraka. Tameng yang baik akan selalu berupaya melindungi dan mengarahkan. Agar selamat dan tak terluka.
0 komentar:
Posting Komentar