Pelangi,
mejikuhibinium. Mengingat satu hal itu aku serasa masih dapat merasakan permen
lollipop yang manis legit, dan nikmatnya secangkir coklat hangat kala setengah
pelangi melingkar di langit.
“Bu
aku mau lollipop dan coklat hangat.” Rajukku pada Bunda sembari menggelanyut
manja di lengan tangannya.
Bunda
tersenyum hangat sembari mengelus rambutku sepenuh cinta. “Kalau nggak ada
pelangi berarti nggak ada permen lollipop dan secangkir coklat hangat.”
“Kenapa?
Kenapa Chacha nggak bisa makan lollipop dan coklat? Bunda nggak sayang sama
Chacha ya?” Aku hampir menangis karena tidak mendapat apa yang kuinginkan, manik-manik
mataku yang tadinya berbinar menjadi redup kembali.
Bunda
merengkuhku dalam dekapannya. “Bukan begitu sayang, ini karena belum ada
pelangi di langit, kan kalau tidak ada para peri yang menitipkan Bunda permen
lollipop dan secangkir coklat, jadinya Bunda nggak bisa ngasih Chacha lollipop
dan coklat.”
"Bukan begitu
sayang, ini karena belum ada peri di langit yang berkunjung membagikan permen
lolipop dan menuangkan secangkir coklat. Jadi Ibu belum bisa memberi Chacha apa
yang diberikan Ibu setiap pelangi datang"
Aku mendongak menatap wajah Bunda. Berkali-kali penjelasan Bunda masih tidak mampu untuk meyakinkanku. “Benar begitu bu?”
Bunda
mengangguk. Senyum hangat terbit dari bibir embun, bibir Bunda yang selalu
basah dengan ucapan cinta.
“Berarti
kalau ada pelangi seperti minggu yang lalu, Chacha dapat yang Chacha inginkan?
Lollipop dan coklat?”
Bunda kembali
mengangguk mantap. Manik-manik mataku kembali berbinar membuat senyum Bunda
mengembang lebar. Kupeluk Bunda sepenuh cinta.
*Tapi sekarang aku tahu
kenapa aku tak mendapatkan permen lollipop bersama secangkir coklat hangat kala
pelangi tak melingkar di langit. Semua itu karena uang bunda belum terkumpul untuk
membelikan yang aku inginkan. Bunda memiliki alasan yang kuat untuk menunda
permintaanku sampai pelangi melingkar indah di langit.
Karena
bundalah aku punya kenangan masa kecil yang manis, semanis legitnya permen
lollipop dan nikmatnya secangkir coklat hangat yang menghangatkan hatiku.
Terima kasih ya Bunda,
untuk semua kenangan yang kau torehkan dalam kehidupan kerlip kehidupanmu ini.
Terima kasih...

0 komentar:
Posting Komentar