Minggu, 05 Agustus 2012

PELANGI, LOLLIPOP, DAN COKLAT

Pelangi, mejikuhibinium. Mengingat satu hal itu aku serasa masih dapat merasakan permen lollipop yang manis legit, dan nikmatnya secangkir coklat hangat kala setengah pelangi melingkar di langit.
“Bu aku mau lollipop dan coklat hangat.” Rajukku pada Bunda sembari menggelanyut manja di lengan tangannya.
Bunda tersenyum hangat sembari mengelus rambutku sepenuh cinta. “Kalau nggak ada pelangi berarti nggak ada permen lollipop dan secangkir coklat hangat.”

“Kenapa? Kenapa Chacha nggak bisa makan lollipop dan coklat? Bunda nggak sayang sama Chacha ya?” Aku hampir menangis karena tidak mendapat apa yang kuinginkan, manik-manik mataku yang tadinya berbinar menjadi redup kembali.
Bunda merengkuhku dalam dekapannya. “Bukan begitu sayang, ini karena belum ada pelangi di langit, kan kalau tidak ada para peri yang menitipkan Bunda permen lollipop dan secangkir coklat, jadinya Bunda nggak bisa ngasih Chacha lollipop dan coklat.”
"Bukan begitu sayang, ini karena belum ada peri di langit yang berkunjung membagikan permen lolipop dan menuangkan secangkir coklat. Jadi Ibu belum bisa memberi Chacha apa yang diberikan Ibu setiap pelangi datang"

Aku mendongak menatap wajah Bunda. Berkali-kali penjelasan Bunda masih tidak mampu untuk meyakinkanku. “Benar begitu bu?”
Bunda mengangguk. Senyum hangat terbit dari bibir embun, bibir Bunda yang selalu basah dengan ucapan cinta.
“Berarti kalau ada pelangi seperti minggu yang lalu, Chacha dapat yang Chacha inginkan? Lollipop dan coklat?”
Bunda kembali mengangguk mantap. Manik-manik mataku kembali berbinar membuat senyum Bunda mengembang lebar. Kupeluk Bunda sepenuh cinta.
*Tapi sekarang aku tahu kenapa aku tak mendapatkan permen lollipop bersama secangkir coklat hangat kala pelangi tak melingkar di langit. Semua itu karena uang bunda belum terkumpul untuk membelikan yang aku inginkan. Bunda memiliki alasan yang kuat untuk menunda permintaanku sampai pelangi melingkar indah di langit.
Karena bundalah aku punya kenangan masa kecil yang manis, semanis legitnya permen lollipop dan nikmatnya secangkir coklat hangat yang menghangatkan hatiku.
Terima kasih ya Bunda, untuk semua kenangan yang kau torehkan dalam kehidupan kerlip kehidupanmu ini. 

Terima kasih...

This entry was posted in

0 komentar:

Posting Komentar