Jumat, 10 Agustus 2012

AKU PUN BUTA TUNGGU

Layakkah aku merasakan rindumu sementara aku buta tunggu?


Itu status Mokal di FB, seorang teman penulis yang tergila-gila menulis kata-kata langit dan pernah menulis duet di kumcer Batas Langit dan Bumi bersamaku...


Sama sepertinya, rinduku pun berjalan bahkan terkadang ia terlalu cepat dan menyamai orang yang berlari hingga ia terengah, sesak, aturan nafasnya memburu. ia terlalu buta untuk mengeja kata tunggu.

aku menghapus peluhnya

Ah, rinduku dan rindumu? adakah ia pernah satu?

aku sama sekali tak menampiknya. Bahkan aku paham benar, dimana posisiku. Hingga nafasku terauti.
meski sampai saat itu
sampai lelah nantiku, penantianku. Aku berharap, paling tidak sekilas, ia pernah singgah,

dilubuk, hatimu...
This entry was posted in

3 komentar:

  1. Kata-katanya bagus :)

    Aku tidak bisa menampik rasaku. Pada sesosok bayang yang masih serir tergelantung di pucuk fikiranku. Yang slalu mengikuti di setiap alur kata-kataku. Aku tidak bisa menampiki rasa meskipun hanya di sini saja. Yah, dia seperti pelangi yang membiaskan seribu warna-warni. Dia seperti musim semi yang memberi aroma mewangi. Dia, ah aku sunggguh tidak bisa membayangkan lebih tentangnnya lagi. Yang aku tau aku hanya memikirkan tentang dia.

    Namun, meskipun demiakan. Lambat laun sepertinya aku harus menghindar. Aku harus mundur. Yah, aku rasa itu kata yang tepat buatku walaupun sebenarnya aku enggan untuk menolaknya. Karna pada akhirnya, karna pada kenyataannya cinta ini hanya sebatas bayangan di cermin yang menolak setiap kenyataan pahit.

    Aku harus mundur.

    *Nice kata-katanya ka :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jiaah, baru tahu ada yang komen. Astaga berapa bulan ini. Aduuh, maafkan daku kak Lya. Salam kenal :D

      Hapus
  2. Jiaah, baru tahu ada yang komen. Astaga berapa bulan ini. Aduuh, maafkan daku kak Lya. Salam kenal :D

    BalasHapus