Saat berbicara pada anak, orang tua perlu menguasai tujuh kunci. Kunci-kunci itu tentang teknik seni berbicara.
Saya mengambil topik ini, karena ternyata 99% yang ditanyakan ke saya via wapri berkaitan dengan komunikasi ke anak. Atau ujung pangkalnya nanti ke arah sini.
Susah payah dijelasin. Anak tetap keukeuh pada pendirian.
Ditanyain, jawabannya pendek-pendek.
Kalau nggak dipancing, ngomoooong terus. Kalau dipancing malah susaaaah ngomong.
Kasus 1
Sepulang sekolah
Udah gitu aja. Anaknya masuk kamar.
Kasus 2
Dua kasus itu bundanya ingin tahu apa yang dilakukan anaknya saat di sekolah. Tapi respondnya terlihat beda ya.
Saya jadi teringat waktu dulu, bapak dan ibu selalu menagih cerita sepulang sekolah. Dan ternyata hal itulah yang membuat kelekatan bonding anak dan orang tua kuat. Anak percaya bahwa ada yang akan menunggunya pulang, menyambutnya bahagia, mendengarkan ceritanya.
Jadi untuk ayah bunda yang masih minim interaksi. Berinteraksilah dengan anak. Karena itu akan jadi kenangan terindah.
Betul kata bu Elly Risman bahwa mengasuh anak itu tentang membuat kenangan. Yuk dirutinkan berkomunikasi dengan anak dengan seni berbicara.
Milikilah pikiran seperti anak-anak. Meskipun kita bukan guru TK, tapi kita bisa kok meneladani beliau-beliau.
Bagaimana guru TK bertingkah layaknya sahabat 'besar' dan membaur dengan dunia mereka.
Berikan perhatian penuh tanpa disambi apa-apa, termasuk gadget dan tv.
Kita sejajarkan tinggi kita dan tatap mata anak. Tunjukkan wajah berseri dan penuh minat pada jawabannya.
Perhatikan reaksi dan sikap anak. Ini untuk mengukur seberapa baikkah obrolan orang tua dan anak.
Apakah ia merasa tidak suka dengan cara kita mengobrol padanya? Apakah pesan kita sampai dipikirannya?
Jangankan anak kecil, misal diri kita yang orang dewasa, saat ada seseorang mengecilkan kejadian yang menimpa kita. Tentu rasanya kecewa sekali.
Seorang anak memang seakan dibekali Allah mesin penanya yang luar biasa. Tapi kita harus bersyukur bunda. Jika kita bisa merawat fitrah rasa ingin tahunya. Maka pengalaman hidupnya akan lebih banyak
Kita ibaratkan diri kita. Jika kita marah, kecewa, sedih dengan perlakuan negatif. Mengapa malah kita sendiri melakukan ke anak? Bukankah itu sesuatu yang tidak adil?
Ajak anak keluar rumah. Melihat ciptaan Allah, kaitkan semua penciptaan dengan ayat Al Qur'an, kisah zaman nabi dan rasul. Berikan ia kisah sejujurnya. Maka pengalaman hidup yang orang tua berikan akan semakin memancing rasa ingin tahu. Dan ini sebaik baik bekal orang tua untuk anak.
Salam,
Bunda Mega
0 komentar:
Posting Komentar