Selasa, 01 Maret 2022

Bijak Menolak Keinginan Anak



"Buund aku mauu itu." Seorang anak lelaki usia 8 tahun menunjuk mobil-mobilan.

Pernah melihat adegan seperti ini bund? Atau bunda juga pernah mengalaminya? Apa yang bunda lakukan? Langsung menolak, memakai ceramah, atau mendengarkannya?

Saya berprinsip bahwa setiap orang selalu ingin pendapatnya didengar. Apapun situasi dan kondisi. Mulai dari usia 0 bahkan sampai ia lanjut usia.

Tak ada orang satu pun yang suka apa yang diinginkan ditolak. Namun, ada cara agar rasa kecewa itu tak terlalu besar.

Ini juga mengajarkan pada anak utamanya. Apa yang ia inginkan nanti di masa depan tidak semuanya bisa terwujud. Tidak semua yang ia inginkan bisa ia raih.

Bahwa kadang ia harus merasakan rasa kecewa agar ia kuat sehingga tidak bersikap defensif. Apalagi melakukan segala cara agar dikabulkan, seperti merengek.

Mungkin orang tuanya saat ini bisa mengabulkan. Namun, di masa depan belum tentu.

Ayah bunda, ada amanah dalam diri kita. Mengabulkan permintaan apalagi yang berkaitan dengan jajan atau mainan akan berdampak pada pola hidup konsumtif.
Mari ajarkan hidup sederhana. Mari tumbuhkan sikap cerdas membelanjakan uang, agar nanti anak menjadi anak mandiri dan menghargai uang.
Keinginan yang selalu dikabulkan. Levelnya akan mengikuti tumbuh kembang si anak. Semakin anak beranjak dewasa keinginannya akan bertambah pula.
Jika sekarang anak minta mobil-mobilan, mobil aki, tak menutup kemungkinan sampai ia dewasa mintanya motor dan mobil beneran. Kalo nggak dituruti nggak hanya marah, ngambek, bahkan sampai mengancam. Ancaman juga beragam, yang paling ngeri membunuh orang tua. Sudah banyak kasus seperti ini.
Baik kembali ke cerita awal tadi.
Alih-alih bundanya membelikan dan mengatakan. "Duh kamu ini mainan udah banyak." Atau, "Kemarinkan kamu udah beli banyak."
Bundanya teringat pesan Abah Ihsan, akhirnya bunda malah mengatakan, "Abang mau itu?"
Sang anak lanang mengangguk semangat. Ia meloncat-loncat.
"Kenapa abang suka mainan itu?"
"Baguuus banget bunda. Warnanya orange. Modelnya juga unik. Abang belum punya yang itu."
"Iya, bunda setuju juga. Bagus ya. Gimana kalau kita buat perjanjian."
"Hah? Kok perjanjian?"
"Iya dong sayang. Akan ada satuu hari dalam satu bulan, abang beli mainan. Di tanggal itu Abang bisa beli mobil orange tadi."
Oke, setelah mendengar apa yang ada dipikiran anak, perasaan akan terasa berbeda. Terasa lebih baik.
Karena bundanya bisa menerima perasaannya, menghargai keinginan, dan memperhatikan apa yang ada dalam hatinya.
Meski tak menutup kemungkinan jika saat itu tidak dibelikan langsung, anak akan menangis atau tantrum di tempat. Biarkanlah. Tapi paling tidak anak telah diberikan kesempatan untuk bicara. Membicarakan isi hati dan pikiran.
Bukankah Allah memberikan kita satu mulut dan dua telinga?
Tentu dibalik ciptaannya ada hikmah besar.
Hikmahnya agar kita lebih banyak mendengar daripada berbicara. Bukan lebih banyak bicara daripada mendengarkan.
Hakikat mendengarkan adalah menabung kebahagiaan. Kita bisa petik saat itu juga, atau bahkan ditahun-tahun mendatang.
Semoga esok tua nanti, anak-anak kita akan lebih senang bersama kita. Rindu menjenguk jika berjauhan. Ingin mendengarkan cerita kita daripada sibuk dan melupakan bahwa ia masih punya orang tua. Karena itu kebahagiaan tanpa tepi bagi kita, orang tua mereka.
Salam,
❤ Bunda Mega
No photo description available.
You, Dyah Binti Maryam Danuri, Siska Sukotjo and 168 others
93 shares
Love
Love
Comment
Share

0 komentar:

Posting Komentar