Jumat, 25 Februari 2022

Surat untuk Anak Lelaki dari Ibundanya


"Nak, izinkan istrimu yang telah berjuang melahirkan anakmu untuk beristirahat."
❤❤❤❤
Ini hanya isi hati seorang ibunda. Yang memiliki anak laki-laki. Dan sadar betul, jika Allah mengizinkan, anak laki-lakinya kelak akan menjadi seorang suami.
❤❤❤❤
Perempuan memang dikenal multitalenta dan lentur. Tapi tidak untuk saat pasca ia melahirkan. Meskipun masyarakat pada umumnya, menuntut perempuan untuk jangan 'bermalas-malasan' dalam keadaan apapun.
Langsung bisa gerak. Tandang gawe. Gercap kembali mengurus urusan anak bayi, suami, dan dapur.
Barulah segala puja puji masyarakat tersemat dalam diri si ibu bayi. "Hebat banget ya dia, habis melahirkan lho. Eh dia padahal lahirin normal. Tanpa sobekan dan jahitan."
"Dia dua jam pasca melahirkan, pulang dari klinik bawa bayi sendiri naik motor ke rumah. Itu baru ibu hebat. Kayak aku dulu gitu juga."
Kalau tidak. Pastilah kasak-kusuk dibelakang. Membuat kuping gerah.
Perempuan melahirkan, entah dia normal atau sectio tetaplah perempuan yang berjuang. Berjuang mengalahkan dirinya, ketakutan, dan kekhawatiran pada bayinya. Jangan bebani lagi dengan kasak kusuk itu.
Bunda pernah dengar istilah baby blues syndrom, power post partum. Itu kaitan dengan tingkat depresi pasca melahirkan
Maka untuk menjaga kewarasan, biarkan ia merasakan manisnya menjadi ibu. Doakan yang baik. Tumbuhkan semangat, agar ia merasa nyaman dan aman. Terutama saat ia membersamai moment berharga bersama bayinya.
Anak lelakiku.
Masa masa awal istrimu melahirkan, cukupkan saja waktu dia untuk bersama dengan bayi.
Kau mungkin tak begitu paham, bayi baru lahir sangat sering menyusu. Menyusunya kuat. Bahkan di tengah tengah malam. Dua tiga jam sekali ia akan menyusu. Durasi minumnya sangat banyak.
Tidak mudah untuk menahan kantuk disaat bersamaan harus menyusui bayi. Menyusui dalam keadaan duduk bersender. Kaki kesemutan, tangan pun seperti mati rasa.
Apalagi kau tertidur lelap. Tak terganggu sedikitpun dengan tangisannya. Atau meski kadang terbangun sebentar untuk membantu istrimu menggunakan bantal menyusui.
Esok paginya, biarkan istrimu beristirahat. Bayi memang begitu, biasanya tertidur di jam jam pagi dan sering terbangun di jam jam malam.
Urusan rumah tangga kau dulu yang pegang. Kerjakanlah dengan bahagia. Atau kalau kau mau, delegasikan ke orang lain.
Tapi bundamu ini sudah mengajarimu memasak, mencuci baju, menyapu, dlsb. Jadi bunda kira kau tak kan kewalahan dengan tanggung jawab itu. Kau belajar ketauhidan, nilai-nilai, dan life skill sedari dini usiamu. Jika kau terapkan, kau takkan membebani istrimu pasca perjuangannya melahirkan.
Hormon estrogennya sedang labil. Ia juga sangat sensitif. Mungkin suatu saat, kau melihat istrimu menangis. Atau memunggungimu dan mengusap ujung matanya. Yang alasannya tak kau tahu. Temani saja ia.
Jika ia merasa pegel badannya, pelan pijatilah. Sembari doakan di depannya agar Allah mengganti segala letih dengan pahala setimpal. Besarkan hatinya bahwa ia kini seorang ibu, yang besar kedudukannya, sehingga ditelapak kakinya pun ada surga.
Jika ada tamu bertandang, mulai bertanya ini itu, yang ternyata sangat sensitif dan membuat istri terluka. Ikutlah menjawab. Karena biasanya istrimu hanya akan tersenyum menanggapi. Senyum penuh duka.
Jika kau pergi keluar. Sepulang kantor, belikan ia makanan sehat yang ia sukai. Jika istrimu sectio belikan ia makanan berprotein tinggi.
InsyaAllah, jika kau berlaku demikian. Menantu bundamu itu akan sangat bahagia mendapatkanmu. Anakmu pun akan menjadi anak yang tumbuh penuh bahagia.
Ohya nak, semua perlakuan itu bukan hanya untuk kelahiran anak pertamamu saja. Bahkan jika Allah memberimu amanah sebelas anak, perlakukan istrimu seperti itu, dengan mulia.
Bukankah sebaik-baik suami adalah yang memuliakan istri. Hadits rasul itu bunda yakin kau sudah paham betul.
Sepenuh cinta,
❤ Bunda Mega —
This entry was posted in

0 komentar:

Posting Komentar