Minggu, 10 Agustus 2014

SIMBAH

           “Kenapa sih suka ke tempat orang-orang tua di panti jompo ini? Heran deh sama kamu, Dea.” Kata Ibu Sita, istri seorang pejabat dengan sosialita yang berkelas. Beliau juga adalah seorang anak dari ibu yang dititipkan di panti ini.
Aku tersenyum mencoba konsentrasi kembali ke sulaman, kreativitas yang diajarkan salah satu nenek di sini. Sekarang ini aku merasa sangat beruntung, memiliki keluarga besar meski tak sedarah, dan memiliki pengetahuan yang diajarkan orang sepuh yang telah kenyang makan asam garam kehidupan. Aku belajar banyak hal.
“Kalau misalnya kamu suka anak-anak kecil atau baby di panti asuhan, saya tidak akan heran. Tapi tidak dengan panti ini. Coba katakan pada saya, alasan kamu itu. Apakah karena LSM yang mengurusi para manula yang terlantar membuatmu kemudian menyukai mereka. Saya rasa bukan itu.”
Aku mengalihkan pandanganku dari sulaman ke wajah ibu Sita. Tersenyum. Ibu Sita sedang bermain dengan analisisnya, seperti yang sering aku lakukan juga. Dulu sekali, ibu Sita tanpa aku tahu mengamatiku menyuapi ibu beliau. Suapan yang katanya dilakukan dengan keikhlasan. Hmm, jika ibu Sita melihat semua aktivitasku di sini, aku yakin ibu Sita akan melihat semua suapanku seperti itu. Suapan yang sama ikhlasnya seperti ketika aku menyuapi simbahku sendiri. Penyebab aku ikut dan bergerak di bawah LSM yang mengurus tentang orangtua lansia adalah karena keluargaku. Cerita itu kusuguhkan pada kalian, sama persis seperti saat ini kala aku bercerita pada ibu Sita.
@@@
Saat itu, bapak membetulkan letak duduk, menyamankannya, berbicara dengan serius padaku. Mungkin karena aku anak sulung bapak. Jika sudah seperti ini kebiasaanku bukan hanya menjadi pendengar yang baik tapi juga melihat ekspresi bapak. Aku membaca setiap inci otot wajah bapak yang berubah-ubah, tak lupa juga aku menerjemahkan setiap gerakan tubuhnya.
            “Bapak akan membujuk simbah untuk tinggal dirumah ini.” Aku terdiam. Bukan apa-apa, aku juga sayang simbahku. Aku hanya sedang berpikir tentang rencana simbah tidur di rumah kami. Sambutan apa yang nantinya akan aku lakukan.
Aku rela kok. Sebab, demi aku, simbah rela berhenti nginang. Sewaktu kecil aku sangat takut sekali melihat warna merah seperti darah di mulut simbah. Kata ibu, aku sering menangis ketakutan dan simbah pun memutuskan untuk berhenti dari kebiasaan perempuan zaman dulu itu.
Beranjaknya umurku yang ke-22, tentu saja aku tidak lupa, beranjak pula umur simbahku menjadi 82. Sekarang ini beliau sudah tua sekali, pikun, dan kalau bicara sering diulang-ulang. Simbah adalah ibu dari bapakku. “Dua minggu yang lalu simbah jatuh saat kembali dari kamar mandi, ia tidak bisa apa-apa lagi. Sukar bergerak. Kasihan, simbahmu itu cuma tidur di kamarnya, tidak ada yang merawat total. Budhe Ning-mu nggak sabar, pakdhe Karno juga mudah terpancing emosi jadinya malah sering dibentak-bentak. Oalah nduk, orang yang sudah tua itu harusnya diperhatikan. Dicukupkan kebutuhannya.”
Pakdhe Karno adalah kakak ketiga bapak yang sekaligus menempati dan bertempat tinggal bersama simbah. Ahya, bapakku merupakan anak bungsu dari empat bersaudara. Kakak pertamanya, pakdhe Singgih, tinggal di Sragen, berjarak 1 jam dari tempat tinggal simbah. Anehnya, beliau seperti sudah tidak care lagi. Padahal demi Pakdhe Singgih, kata bapak, simbah berkorban apa saja, termasuk menjual harta berharganya. Kakak kedua bapak, pakdhe Parmin ada di Jakarta. Otomatis sangat jarang berada di Karanganyar. Dan entah mengapa simbah selalu tidak betah terlalu lama berada dirumah kami meski beliau mengaku senang.
Dan, usut punya usut ternyata Budhe Ning mengatakan hal yang membuat hati simbah sakit karena hal yang dikatakan budhe tidaklah benar. Itu hasil analisisku. “Uwis ra usah nggolek omah sik luwih apik. Neng kene wae, omah-omahe dhewe.” (sudah tidak usah mencari rumah yang lebih bagus. Di sini saja, rumahnya sendiri).
@@@
            Urusan bujuk membujuk akhirnya membuahkan hasil. Simbah mau di bawa ke rumah kami meski tidak sepekan full. Hanya lima hari. Hal yang tak kulupakan dari simbah adalah suara kekehnya. Tiap kali aku berkunjung atau simbah yang berkunjung, mencium tangannya takzim, memeluk dan mengecup kedua pipinya yang bergelambir, ia selalu saja terekeh. Suara kekeh yang lucu.
            Tentu saja hal itu tidak mudah. Aku adalah sulung dari tiga bersaudara. Dan adikku yang pertama –kelas 2 SMK- tidak begitu setuju jika simbah harus menginap. Sedangkan adikku yang satunya setuju-setuju saja, dia sih masih kecil, kelas 2 SD.
            Kali pertama simbah datang, tertatih berjalan dengan di tuntun bapak. Aku mulai sadar seberapa renta simbahku kini. Dan kesadaranku itu bertambah jelas ketika bapak memintaku melanjutkan menuntun simbah. Tubuh simbah benar-benar gemetar, terkadang tatihnya membuat simbah seperti hendak oleng. Tubuhnya yang dulu lumayan gemuk, sekarang seperti tubuh yang hanya dililit kulit. Kurus. Rambutnya putih utuh. Tak ada lagi hitam yang dulu sering aku mainkan.
             Tiap kali aku melakukan hal-hal yang telah dilakukan bapak atau ibu pada simbah selalu aku catat baik, atau hal-hal yang kemudian aku lakukan untuk simbahku.
            Jika kamu mau tahu apa yang akan dilakukan orang padamu, kamu bisa melihatnya dari bagaimana kamu memperlakukan orang lain itu. Kalimat itu segera aku cetak tebal di buku harian. Menanamkannya dalam hati. Yah, seperti pelajaran sewaktu aku duduk di kelas satu SMP saat ibu guru bahasa Indonesia berkata barangsiapa menanam dia juga yang akan menuai. Atau saat guru TPQ berkata Allah pasti tahu apapun yang akan kita tanam dan akan memberikan balasan.
@@@
            “Menguap terus dari tadi, kenapa sih?” aku menghapus titik-titik air mata yang menyembul. Reaksi dari beberapa kali aku menguap. Riana menunjukkan muka bertanya. Yah, memang tidak biasanya aku menguap saat kuliah. “Begadang?”
            Aku hanya menanggapinya dengan tertawa.
“Seingatku tidak ada tugas yang mengharuskanmu begadang.”
Aku mengangguk.
“Terus kenapa dong?”
“Semalam cuma bisa tidur setengah jam.”
“Yang bener? Kamukan putri tidur.” Mendapat julukan seperti itu aku hanya tertawa kecil. Yah, Riana memang sohibku, tahu benar kebiasaanku di pesantren dulu. Jangankan Riana, Ustadzah kalau ketemu aku mesti bilang. Oh, ini ya si putri tidur. Bukan maksudku begitu, tapi malam adalah waktu siangku. Malam lebih membuatku bisa berkonsentrasi, tanpa ada kegaduhan, apalagi jika aku harus menyetor muka dan hafalan dua lembar per dua hari. Jadi aku harus menahan kantuk di kelas, di perpustakaan, dan bahkan saat mengantri untuk menyetor.
“Simbahku tidur di rumahku. Dan maunya beliau ditemani. Beliau nggak tidur, tidur sebentar, dan cerita banyak-banyak. Aku mau bangunin ibu atau bapak, kasihan. Seharian sudah bekerja. Maka aku yang memutuskan untuk menemani simbah.”
Riana tertawa menampakkan lesung pipitnya yang manis. “Wah, asyik dong.”
“Iya, asyik. Tapi cerita simbahku itu diulang-ulang terus.”
“Yah, yang sabar aja.”
@@@
Lama-kelamaan –berjalan enam bulan-, aku yang tadinya begitu sabar. Mulai kehilangan kendali. Simbah berubah, begitupula suasana hatiku. Mungkin karena ketuaannya. Kepikunannya. Kesendiriannya. Ia berubah jadi anak-anak. Suka merengek, manja, apa-apa jadi salah. Aku yang terkadang baru pulang kuliah dengan kelelahan luar biasa setelah praktikum biologi dihadapkan dengan permintaan simbah yang neko-neko, membuatku terkadang menghela napas berat, dan mulai beratlah kebiasaanku meladeni beliau. Dulu sih aku sabar-sabarkan tapi entahlah.
            “Kesabaran manusia itu ndak ada batasnya nduk.” Nasihat ibu aku cerna dan rekam dalam memori. Tapi yang ada adalah penolakan.
            “Ada bu. Suatu ketika manusia akan memiliki titik jenuh. Dan mungkin saat inilah titik jenuhku.” Aku sudah tidak memikirkan apakah ibuku mampu mencerna kata-kataku, yang aku tahu saat ini aku sedang jengkel. Tapi dugaanku ternyata salah, nyatanya ibu berkata padaku tentang keikhlasan.
            “Kau tahu nduk, rasa rela saja tidak cukup, harus diimbangi dengan keikhlasan.”
            Entah aku musti tertawa atau menangis. Aku pun memutuskan, jika simbah berada di rumah kami, aku akan melamakan diriku di kampus. Melakukan hal yang sama dilakukan adik pertamaku. Bedanya, kalau adikku itu pulang sekolah, kerumah, makan, dan pergi main. Bukankah terkadang teori lebih mudah diucapkan daripada dilaksanakan. Tanpa kesadaran yang pasti egoku mulai ditebalkan setan. Entahlah siapa pula yang mengurus simbah saat aku tidak di rumah. Kalau tidak ibu pasti juga bapak, aku tidak mau ambil peduli.
            “Mbak sekarang kenapa jarang di rumah?” Tanya adik kecilku. Menggelanyut manja di pundak. Hari ini simbah tidak di rumah kami.
            “Ada banyak kegiatan di kampus dik.” Jawabku mengelus kepalanya penuh kasih.
            “Simbah nanyain mbak terus.” Katanya, menatapku, mungkin mencari jawaban. Aku tak begitu terkejut. Paling juga di minta ini itu.
            Aku mencubit pipinya yang gembul. “Ohya? Yang nyariin mbak tu, simbah atau kamu?” Adikku tertawa mendengar jawabanku. Mungkin juga dua-duanya.
@@@
            Hari ini tidak ada jam kuliah, kosong. Ada rapat dosen. Sedari pagi aku yang tidak begitu memperhatikan jarkoman info jam kosong, meluncur saja ke Solo. Baru sampai di kampus, membuka sms, dan mulai kebingungan mau ngapain. Akhirnya aku arahkan sepeda motorku menuju perpustakaan, kuputuskan mengisi waktu dengan membaca. Setelah bosan membaca aku nggak tahu harus pergi kemana, aku pun pulang.
             Ada desir aneh, sejenis keharuan. Aku sengaja membelokkan langkahku menuju kamarku, kamar yang ditempati simbah kala menginap. Adik kecilku dengan telaten membersihkan mulut simbah yang belepotan roti coklat. Aku menatapnya lama, menatap setiap inci ketelatenan yang dilakukan adik kecilku itu. Ya Allah, begitu kalahnya kedewasaanku dengan adik kecilku itu. Entah mengapa aku merasa ada sesuatu yang merembas dari mataku. Ah aku pun menyapu air mata.
            Reflek kugerakkan tanganku cepat tatkala kulihat adikku hampir menjatuhkan piring yang berada tepat disampingnya, aku membenarkan piring tersebut.
            “Mbak.” Adikku tersenyum sumringah melihat kearahku. Aku peluk kepalanya dan tersenyum. “Mbah, mbak Dea pulang.” Kata adikku. Mengambil tanganku dan didekatkan ke tangan simbah.
            “Dea.” Suara simbah memanggilku lirih. Aku mencium takzim tangan simbah. “Kemana saja tho nduk? Sibuk apa kamu di sekolah? Simbah pingin ketemu kamu, kok ya sulit sekali.”
            Aku terdiam, tersenyum samar, lebih kepada rasa bersalah daripada rasa kesal. “Maaf mbah.” Yang kulihat di mata simbah adalah sesenggukannya. Simbah menangis. Meski tanpa air mata. Beliau memelukku erat.
            “Mbah itu, sering nanyain mbak Dea terus. Tapi udah Icha bilang, kalau mbak Dea sedang banyak tugas kuliah dan organisasi makanya tidak bisa cepat pulang, gitu mbak.”
            “Ada apa ini? Mbak Dea udah pulang? mau teh hangat juga?” Tanya adik pertamaku, masuk kekamar membawa gelas berisi teh hangat. Ekspresi pertamaku adalah keterkejutan, tentu saja. Jawaban untuk tawaran adikku adalah sebuah gelengan.
Terenyuh sekali aku, melihat adik yang paling berontak, kini dengan lembutnya merawat simbah. Yaa muqolibal qulub. Sungguh Engkau Allah yang Maha membolak-balikan hati, aku pinta untuk meneguhkan hatiku untuk selalu menjadi baik, terus baik, dan istiqomah baik. Layaknya yang telah Engkau lakukan pada adik pertamaku itu.
Aku tidak sedang memperhatikan simbah. Sekarang ini aku hanya menyesapi kerinduan simbah padaku. Suara gemerasak radio meningkahi suasanaku sekarang. Lamat kudengar suara seorang dai kondang memberikan ceramahnya yang membahas mengenai qur’an surat Al Isro 23, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu dan bapak. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik”.
            Lamat pula aku melihat kilasan waktu, ketika simbah memintaku untuk menemaninya kala malam. Tilawah sehari satu juzku teratur, tahajudku lebih produktif, aku bisa sahur untuk puasa daud, dan tentu saja sholat fajar yang tak pernah tertinggal. Tapi setelah aku tidak begitu memperhatikan simbah semuanya kacau. Sekarang boro-boro gitu, tidurku begitu pulas sampai tidak bisa melakukan target ibadah harian. Jangankan satu juz, enam lembar saja sudah ngos-ngosan, sholat tahajud berlubang, fajar juga kalau nggak kesiangan bangun.
Aku menundukkan wajah, mengepalkan kedua tangan di depan dada. Mengucap azam. Baiklah, azamku ini semakin membulat, mumpung setan belum masuk lagi, aku akan memperbaiki kesalahanku, belajar keikhlasan dari adik kecilku, juga adik pertamaku. Bukan hanya saja rela tapi ikhlas, begitukan bu.
Setelah mengucap azam, senyumku tak putus-putus sembari menuangkan rasa terima kasih pada Allah. Terima kasih Allah atas pelajaran kehidupan ini. Pelajaran yang tak kan pernah kudapatkan di manapun bahkan di bangku kuliah. Dan terima kasih memberiku guru terbaik di kehidupan, keluargaku. Rasa terima kasih yang tak jua terputus sampai aku memutuskan untuk bergabung di LSM, esok hari nanti.
Khansa, 290413, 23:45 WIB

SELESAI

Juara 3 tahun 2013

Himpunan Mahasiswa Psikologi Universitas Sebelas Maret 

kalangan umum

0 komentar:

Posting Komentar