“Kenapa sih suka ke tempat orang-orang tua di panti
jompo ini? Heran deh sama kamu, Dea.” Kata Ibu Sita, istri seorang pejabat
dengan sosialita yang berkelas. Beliau juga adalah seorang anak dari ibu yang
dititipkan di panti ini.
Juara 3 tahun 2013
Himpunan Mahasiswa Psikologi Universitas Sebelas Maret
kalangan umum
Aku tersenyum mencoba konsentrasi kembali ke
sulaman, kreativitas yang diajarkan salah satu nenek di sini. Sekarang ini aku
merasa sangat beruntung, memiliki keluarga besar meski tak sedarah, dan
memiliki pengetahuan yang diajarkan orang sepuh
yang telah kenyang makan asam garam kehidupan. Aku belajar banyak hal.
“Kalau misalnya kamu suka anak-anak kecil atau baby di panti asuhan, saya tidak akan
heran. Tapi tidak dengan panti ini. Coba katakan pada saya, alasan kamu itu.
Apakah karena LSM yang mengurusi para manula yang terlantar membuatmu kemudian
menyukai mereka. Saya rasa bukan itu.”
Aku mengalihkan pandanganku dari sulaman ke wajah
ibu Sita. Tersenyum. Ibu Sita sedang bermain dengan analisisnya, seperti yang
sering aku lakukan juga. Dulu sekali, ibu Sita tanpa aku tahu mengamatiku
menyuapi ibu beliau. Suapan yang katanya dilakukan dengan keikhlasan. Hmm, jika
ibu Sita melihat semua aktivitasku di sini, aku yakin ibu Sita akan melihat
semua suapanku seperti itu. Suapan yang sama ikhlasnya seperti ketika aku
menyuapi simbahku sendiri. Penyebab aku ikut dan bergerak di bawah LSM yang
mengurus tentang orangtua lansia adalah karena keluargaku. Cerita itu
kusuguhkan pada kalian, sama persis seperti saat ini kala aku bercerita pada
ibu Sita.
@@@
Saat itu, bapak membetulkan letak duduk,
menyamankannya, berbicara dengan serius padaku. Mungkin karena aku anak sulung
bapak. Jika sudah seperti ini kebiasaanku bukan hanya menjadi pendengar yang
baik tapi juga melihat ekspresi bapak. Aku membaca setiap inci otot wajah bapak
yang berubah-ubah, tak lupa juga aku menerjemahkan setiap gerakan tubuhnya.
“Bapak
akan membujuk simbah untuk tinggal dirumah ini.” Aku terdiam. Bukan apa-apa,
aku juga sayang simbahku. Aku hanya sedang berpikir tentang rencana simbah
tidur di rumah kami. Sambutan apa yang nantinya akan aku lakukan.
Aku rela kok. Sebab, demi aku, simbah rela berhenti
nginang. Sewaktu kecil aku sangat takut sekali melihat warna merah seperti
darah di mulut simbah. Kata ibu, aku sering menangis ketakutan dan simbah pun memutuskan
untuk berhenti dari kebiasaan perempuan zaman dulu itu.
Beranjaknya umurku yang ke-22, tentu saja aku tidak
lupa, beranjak pula umur simbahku menjadi 82. Sekarang ini beliau sudah tua
sekali, pikun, dan kalau bicara sering diulang-ulang. Simbah adalah ibu dari
bapakku. “Dua minggu yang lalu simbah jatuh saat kembali dari kamar mandi, ia
tidak bisa apa-apa lagi. Sukar bergerak. Kasihan, simbahmu itu cuma tidur di
kamarnya, tidak ada yang merawat total. Budhe Ning-mu nggak sabar, pakdhe Karno
juga mudah terpancing emosi jadinya malah sering dibentak-bentak. Oalah nduk, orang yang sudah tua itu
harusnya diperhatikan. Dicukupkan kebutuhannya.”
Pakdhe Karno adalah kakak ketiga bapak yang
sekaligus menempati dan bertempat tinggal bersama simbah. Ahya, bapakku
merupakan anak bungsu dari empat bersaudara. Kakak pertamanya, pakdhe Singgih,
tinggal di Sragen, berjarak 1 jam dari tempat tinggal simbah. Anehnya, beliau
seperti sudah tidak care lagi.
Padahal demi Pakdhe Singgih, kata bapak, simbah berkorban apa saja, termasuk menjual
harta berharganya. Kakak kedua bapak, pakdhe Parmin ada di Jakarta. Otomatis
sangat jarang berada di Karanganyar. Dan entah mengapa simbah selalu tidak
betah terlalu lama berada dirumah kami meski beliau mengaku senang.
Dan, usut punya usut ternyata Budhe Ning mengatakan
hal yang membuat hati simbah sakit karena hal yang dikatakan budhe tidaklah
benar. Itu hasil analisisku. “Uwis ra
usah nggolek omah sik luwih apik. Neng kene wae, omah-omahe dhewe.” (sudah
tidak usah mencari rumah yang lebih bagus. Di sini saja, rumahnya sendiri).
@@@
Urusan
bujuk membujuk akhirnya membuahkan hasil. Simbah mau di bawa ke rumah kami
meski tidak sepekan full. Hanya lima
hari. Hal yang tak kulupakan dari simbah adalah suara kekehnya. Tiap kali aku
berkunjung atau simbah yang berkunjung, mencium tangannya takzim, memeluk dan
mengecup kedua pipinya yang bergelambir, ia selalu saja terekeh. Suara kekeh
yang lucu.
Tentu
saja hal itu tidak mudah. Aku adalah sulung dari tiga bersaudara. Dan adikku
yang pertama –kelas 2 SMK- tidak begitu setuju jika simbah harus menginap.
Sedangkan adikku yang satunya setuju-setuju saja, dia sih masih kecil, kelas 2
SD.
Kali
pertama simbah datang, tertatih berjalan dengan di tuntun bapak. Aku mulai
sadar seberapa renta simbahku kini. Dan kesadaranku itu bertambah jelas ketika
bapak memintaku melanjutkan menuntun simbah. Tubuh simbah benar-benar gemetar,
terkadang tatihnya membuat simbah seperti hendak oleng. Tubuhnya yang dulu
lumayan gemuk, sekarang seperti tubuh yang hanya dililit kulit. Kurus.
Rambutnya putih utuh. Tak ada lagi hitam yang dulu sering aku mainkan.
Tiap kali aku melakukan hal-hal yang telah
dilakukan bapak atau ibu pada simbah selalu aku catat baik, atau hal-hal yang
kemudian aku lakukan untuk simbahku.
Jika kamu mau tahu apa yang akan
dilakukan orang padamu, kamu bisa melihatnya dari bagaimana kamu memperlakukan
orang lain itu. Kalimat itu
segera aku cetak tebal di buku harian. Menanamkannya dalam hati. Yah, seperti
pelajaran sewaktu aku duduk di kelas satu SMP saat ibu guru bahasa Indonesia
berkata barangsiapa menanam dia juga yang akan menuai. Atau saat guru TPQ
berkata Allah pasti tahu apapun yang akan kita tanam dan akan memberikan
balasan.
@@@
“Menguap
terus dari tadi, kenapa sih?” aku menghapus titik-titik air mata yang
menyembul. Reaksi dari beberapa kali aku menguap. Riana menunjukkan muka
bertanya. Yah, memang tidak biasanya aku menguap saat kuliah. “Begadang?”
Aku
hanya menanggapinya dengan tertawa.
“Seingatku tidak ada tugas yang mengharuskanmu
begadang.”
Aku mengangguk.
“Terus kenapa dong?”
“Semalam cuma bisa tidur setengah jam.”
“Yang bener? Kamukan putri tidur.” Mendapat julukan
seperti itu aku hanya tertawa kecil. Yah, Riana memang sohibku, tahu benar
kebiasaanku di pesantren dulu. Jangankan Riana, Ustadzah kalau ketemu aku mesti
bilang. Oh, ini ya si putri tidur. Bukan maksudku begitu, tapi malam adalah
waktu siangku. Malam lebih membuatku bisa berkonsentrasi, tanpa ada kegaduhan,
apalagi jika aku harus menyetor muka dan hafalan dua lembar per dua hari. Jadi
aku harus menahan kantuk di kelas, di perpustakaan, dan bahkan saat mengantri
untuk menyetor.
“Simbahku tidur di rumahku. Dan maunya beliau
ditemani. Beliau nggak tidur, tidur sebentar, dan cerita banyak-banyak. Aku mau
bangunin ibu atau bapak, kasihan. Seharian sudah bekerja. Maka aku yang
memutuskan untuk menemani simbah.”
Riana tertawa menampakkan lesung pipitnya yang
manis. “Wah, asyik dong.”
“Iya, asyik. Tapi cerita simbahku itu diulang-ulang
terus.”
“Yah, yang sabar aja.”
@@@
Lama-kelamaan –berjalan enam bulan-, aku yang
tadinya begitu sabar. Mulai kehilangan kendali. Simbah berubah, begitupula
suasana hatiku. Mungkin karena ketuaannya. Kepikunannya. Kesendiriannya. Ia
berubah jadi anak-anak. Suka merengek, manja, apa-apa jadi salah. Aku yang
terkadang baru pulang kuliah dengan kelelahan luar biasa setelah praktikum
biologi dihadapkan dengan permintaan simbah yang neko-neko, membuatku terkadang menghela napas berat, dan mulai
beratlah kebiasaanku meladeni beliau. Dulu sih aku sabar-sabarkan tapi
entahlah.
“Kesabaran
manusia itu ndak ada batasnya nduk.”
Nasihat ibu aku cerna dan rekam dalam memori. Tapi yang ada adalah penolakan.
“Ada
bu. Suatu ketika manusia akan memiliki titik jenuh. Dan mungkin saat inilah
titik jenuhku.” Aku sudah tidak memikirkan apakah ibuku mampu mencerna
kata-kataku, yang aku tahu saat ini aku sedang jengkel. Tapi dugaanku ternyata
salah, nyatanya ibu berkata padaku tentang keikhlasan.
“Kau
tahu nduk, rasa rela saja tidak
cukup, harus diimbangi dengan keikhlasan.”
Entah
aku musti tertawa atau menangis. Aku pun memutuskan, jika simbah berada di
rumah kami, aku akan melamakan diriku di kampus. Melakukan hal yang sama
dilakukan adik pertamaku. Bedanya, kalau adikku itu pulang sekolah, kerumah,
makan, dan pergi main. Bukankah terkadang teori lebih mudah diucapkan daripada
dilaksanakan. Tanpa kesadaran yang pasti egoku mulai ditebalkan setan. Entahlah
siapa pula yang mengurus simbah saat aku tidak di rumah. Kalau tidak ibu pasti
juga bapak, aku tidak mau ambil peduli.
“Mbak
sekarang kenapa jarang di rumah?” Tanya adik kecilku. Menggelanyut manja di
pundak. Hari ini simbah tidak di rumah kami.
“Ada
banyak kegiatan di kampus dik.” Jawabku mengelus kepalanya penuh kasih.
“Simbah
nanyain mbak terus.” Katanya, menatapku, mungkin mencari jawaban. Aku tak
begitu terkejut. Paling juga di minta ini itu.
Aku
mencubit pipinya yang gembul. “Ohya? Yang nyariin mbak tu, simbah atau kamu?”
Adikku tertawa mendengar jawabanku. Mungkin juga dua-duanya.
@@@
Hari
ini tidak ada jam kuliah, kosong. Ada rapat dosen. Sedari pagi aku yang tidak
begitu memperhatikan jarkoman info jam kosong, meluncur saja ke Solo. Baru
sampai di kampus, membuka sms, dan mulai kebingungan mau ngapain. Akhirnya aku
arahkan sepeda motorku menuju perpustakaan, kuputuskan mengisi waktu dengan
membaca. Setelah bosan membaca aku nggak tahu harus pergi kemana, aku pun
pulang.
Ada desir aneh, sejenis keharuan. Aku sengaja
membelokkan langkahku menuju kamarku, kamar yang ditempati simbah kala
menginap. Adik kecilku dengan telaten membersihkan mulut simbah yang belepotan roti
coklat. Aku menatapnya lama, menatap setiap inci ketelatenan yang dilakukan
adik kecilku itu. Ya Allah, begitu kalahnya kedewasaanku dengan adik kecilku
itu. Entah mengapa aku merasa ada sesuatu yang merembas dari mataku. Ah aku pun
menyapu air mata.
Reflek
kugerakkan tanganku cepat tatkala kulihat adikku hampir menjatuhkan piring yang
berada tepat disampingnya, aku membenarkan piring tersebut.
“Mbak.”
Adikku tersenyum sumringah melihat kearahku. Aku peluk kepalanya dan tersenyum.
“Mbah, mbak Dea pulang.” Kata adikku. Mengambil tanganku dan didekatkan ke
tangan simbah.
“Dea.”
Suara simbah memanggilku lirih. Aku mencium takzim tangan simbah. “Kemana saja
tho nduk? Sibuk apa kamu di sekolah?
Simbah pingin ketemu kamu, kok ya sulit sekali.”
Aku
terdiam, tersenyum samar, lebih kepada rasa bersalah daripada rasa kesal. “Maaf
mbah.” Yang kulihat di mata simbah adalah sesenggukannya. Simbah menangis.
Meski tanpa air mata. Beliau memelukku erat.
“Mbah
itu, sering nanyain mbak Dea terus. Tapi udah Icha bilang, kalau mbak Dea
sedang banyak tugas kuliah dan organisasi makanya tidak bisa cepat pulang, gitu
mbak.”
“Ada
apa ini? Mbak Dea udah pulang? mau teh hangat juga?” Tanya adik pertamaku,
masuk kekamar membawa gelas berisi teh hangat. Ekspresi pertamaku adalah
keterkejutan, tentu saja. Jawaban untuk tawaran adikku adalah sebuah gelengan.
Terenyuh sekali aku, melihat adik yang paling
berontak, kini dengan lembutnya merawat simbah. Yaa muqolibal qulub. Sungguh Engkau Allah yang Maha
membolak-balikan hati, aku pinta untuk meneguhkan hatiku untuk selalu menjadi baik,
terus baik, dan istiqomah baik. Layaknya yang telah Engkau lakukan pada adik
pertamaku itu.
Aku tidak sedang memperhatikan simbah. Sekarang ini
aku hanya menyesapi kerinduan simbah padaku. Suara gemerasak radio meningkahi
suasanaku sekarang. Lamat kudengar suara seorang dai kondang memberikan
ceramahnya yang membahas mengenai qur’an surat Al Isro 23, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu
jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu dan bapak.
Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut
dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada
keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah
kepada keduanya perkataan yang baik”.
Lamat
pula aku melihat kilasan waktu, ketika simbah memintaku untuk menemaninya kala
malam. Tilawah sehari satu juzku teratur, tahajudku lebih produktif, aku bisa
sahur untuk puasa daud, dan tentu saja sholat fajar yang tak pernah tertinggal.
Tapi setelah aku tidak begitu memperhatikan simbah semuanya kacau. Sekarang
boro-boro gitu, tidurku begitu pulas sampai tidak bisa melakukan target ibadah
harian. Jangankan satu juz, enam lembar saja sudah ngos-ngosan, sholat tahajud
berlubang, fajar juga kalau nggak kesiangan bangun.
Aku menundukkan wajah, mengepalkan kedua tangan di
depan dada. Mengucap azam. Baiklah, azamku ini semakin membulat, mumpung setan
belum masuk lagi, aku akan memperbaiki kesalahanku, belajar keikhlasan dari
adik kecilku, juga adik pertamaku. Bukan hanya saja rela tapi ikhlas, begitukan
bu.
Setelah mengucap azam, senyumku tak putus-putus
sembari menuangkan rasa terima kasih pada Allah. Terima kasih Allah atas
pelajaran kehidupan ini. Pelajaran yang tak kan pernah kudapatkan di manapun
bahkan di bangku kuliah. Dan terima kasih memberiku guru terbaik di kehidupan,
keluargaku. Rasa terima kasih yang tak jua terputus sampai aku memutuskan untuk
bergabung di LSM, esok hari nanti.
Khansa, 290413, 23:45 WIB
SELESAI
Himpunan Mahasiswa Psikologi Universitas Sebelas Maret
kalangan umum
0 komentar:
Posting Komentar