Minggu, 10 Agustus 2014

GADIS KERTAS DAN MALAIKAT BUMI



Usai pelajaran di kelas aku berjalan lambat menuju gerbang sekolah. Sendiri. Angin menerpa badan dan mengibarkan kerudung yang membalut kepalaku. Tiba-tiba pandangan mataku tertuju kearah remasan kertas yang menggelinding diterbangkan angin tepat didekat kakiku. Iseng kuambil kertas tersebut.
Aku benci hal-hal yang berhubungan denganmu, mulai saat ini…
kamu membuatku selalu berpikir bahwa aku salah, kamu selalu membuatku terlihat bodoh diantara teman-teman yang lain, dan kamu selalu membuatku merasakan kegetiran,
apa salahku terhadap kamu?
jikapun aku punya salah,
tolong…jangan hukum aku seperti ini, tolong…jangan kau hukum aku dengan caramu ini.
aku mau kejelasan yang sesungguhnya, tegur aku dengan kasih, nasihati aku dengan cinta. Jadi tolong katakan saja apa maumu, jangan berbicara dan menusukku seenaknya. Itu semua sungguh sangat menyakitkan.
Dan aku sudah tidak kuat untuk menahan sikapmu terhadapku.
kalau ini yang kau inginkan aku akan katakan pada dunia bahwa :
AKU TIDAK MENCINTAIMU, AKU TIDAK PERNAH MEMIKIRKANMU, AKU TIDAK MEMBUTUHKANMU… (aku sungguh sedang kebingungan.)
Selesai sudah perkara, begitukah yang kau inginkan. Tapi kata habis itu hanya ada di kata-kata tidak di hatiku.
Papa, Mama malaikat bumiku…salahkah aku jika aku mencintaimu dengan caraku tapi mengapa kau hanya diam. BICARALAH DIDEPANKU DENGAN BAIK, APA SALAHKU!
aku sangat ingin dicintai oleh kalian tetapi mengapa aku tak dicinta. Karena bagiku kalian terindah…dan sampai kapanpun selalu terindah… lalu harus bagaimana aku mengungkapkannya pa, ma…
AKU TIDAK MENCINTAIMU, AKU TIDAK PERNAH MEMIKIRKANMU, AKU TIDAK MEMBUTUHKANMU…
Usai membacanya, entah mengapa ada sesak yang menghimpit hatiku. Kawan, entah siapapun kamu: semoga kau kuat untuk menjalani kehidupan, semoga Sang Maha membukakan pintu hati teruntuk Malaikat Bumimu.
Seorang gadis berlari kencang kearahku, usianya kira-kira sebaya denganku. Dia tergesa menyambar kertas remasan itu.
“Kamu membacanya?” tanyanya bersama mata sendu miliknya yang melihatku dengan lekat dan meneliti setiap jengkal tubuhku. “Tak usah kau jawab, nggak penting.” Ujarnya sebelum pergi meninggalkanku.
Yang kulakukan hanyalah terpaku menatapnya dan bermain kata di hati, entahlah sosok gadis itu sepertinya tak asing lagi bagiku. Aku pernah melihatnya, barang sekali.
Aku memang tidak tahu bagaimana rasanya berada diposisimu, gadis kertas. Karena bagiku keluarga adalah malaikat bumi yang mendamaikan kehidupanku. Lihat saja salah satu episode kehidupanku, ketika aku mulai bangkit dari keterpurukan dan keluarga menguatkanku untuk tetap berdiri tegak.
Aku mencomot tangkupan roti tawar yang dibuat oleh kakak. “Nyam nyam enaknya, makasih ya kak.”
Kakak menggeleng-gelengkan kepalanya. ”Berdo’a dulu sebelum makan.” Tegurnya tak luput dengan sebuah senyuman dibibir tipisnya.
“Terburu-buru kak.” Cepat kutelan gigitan pertama yang terlanjur kukunyah tadi, baru kemudian berdoa.
Kulangkahkan kakiku dan bruuuk, suara berdebam keras itu datang dari tubuhku yang oleng dan jatuh ke lantai. Ibu langsung menghampiriku dan memapahku ke kursi dekat kakak. Kakak membantuku untuk duduk dan ayah tersenyum menatapku. Kutafsirkan arti pandangan mata beliau supaya aku harus kuat menghadapi segalanya.
“Maaf bu lupa.” Kataku demi melihat rasa khawatir membayang diwajahnya. “Thia nggak papa kok, Thia baik-baik saja, hanya butuh waktu untuk Thia terbiasa.” Padahal ada rasa nyeri yang berantakan tepat diketiakku.
Hari ini adalah hari pertamaku menggunakan alat bantu berjalan (kruk) kesekolah,  mungkin karena belum terbiasa saja sehingga sering membuatku terjatuh. Sebenarnya aku khawatir juga dan membayangkan hal-hal yang mungkin terjadi di sekolah nanti tapi aku harus kuat.
Lagipula kata ayah sebulan yang lalu waktu aku sangat malu (terpaksa) mencoba alat bantu berjalan, "Allah tidak menilai dengan cara membandingkanmu dengan yang lain tapi DIA menggunakan dirimu sendiri sebagai ukuran. Bukan karena penampilanmu, tapi karena hatimu." Jadi kenapa aku harus tidak pede dengan penampilanku, kan Allah menilaiku dari hati, sebodo teuingkan sama pendapat manusia.
Kukembangkan seulas senyum hangat, perjuangan akan segera dimulai. Hohoho, Bismillahirrohmanirrohim. AKU PUNYA ALLAH. J
“Kak, anterin. Aku belum terbiasa memakai sepeda lagi.”
Kakak mengangguk. Ketika kakak mengambil kunci motor aku terlebih dahulu pamit pada ayah dan ibu. Ayah mengusap kerudungku dengan lembut dan menciumku sedangkan ibu menciumku dan memelukku.
Sampai kapanpun, bagiku keluarga tetaplah muara mata air bening yang selalu membasuhku dengan kebaikan, merefresku dengan kesegaran serta menghangatkan hatiku kala aku ‘kedinginan’ dengan kehidupan yang tak bersahabat.
Tak terkira sudah berapa juta kata telah Ayah, Ibu serta Kakak laki-lakiku selipkan dalam relungku. Mencelupkanku dengan kalam hingga aku terbenam. Salah jika aku tumbuh menjadi seperti sekarang ini karena aku baik sebab pada hakikatnya aku bisa baik adalah karena kalianlah yang terbaik.
Oleh karena semua itu aku haturkan terima kasih banyak untuk permata permai yang menghijau dan tertanam indah ditiap hela nafasku, meski aku tahu kata-kata ini tak sebanding artinya dengan apa yang telah kalian lukis di langit hatiku tapi paling tidak aku mencintai kalian dengan caraku sendiri.
&&&
Satu tahun yang penuh badai dalam kehidupanku hingga aku selalu tersungkur dan tak menemukan cahaya meskipun pagi telah datang. Waktuku lebih banyak kugunakan untuk menyendiri dalam kegelapan didalam kamarku, baru ketika malam tiba aku buka pintu balkon kamar.
Serambi balkon kamarku terlihat sangat indah ditimpa sinar rembulan, menggantung bersama bintang gemintang. Aku mengambil kursi putih untuk menikmatinya dengan menghembuskan nafas dan memejamkan mata. Semilir angin memanjakanku dengan belaian lembut.
Tanpa terasa bulir-bulir kristal mataku hangat mengalir seiring kukenang banyak yang takut dan merasa kasihan terhadap kondisiku, dari anak-anak kecil disekitar kompleks rumahku dan teman-teman disekolahan. Mungkin lebih tepatnya entah mengapa aku merasakan mereka merendahkan diriku yang memiliki tubuh yang tak sempurna. Aku tidak suka dipandang seperti itu, setelah kejadian kakiku yang harus diamputasi, perlakuan semua orang menjadi berbeda. Dan aku membenci semuanya. Dan, dan aku lebih benci tepat disaat aku tumbang sahabatku harus pindah keluar kota mengikuti ayahnya tanpa pamit.
Rapuh dan terluka, adalah kata-kata yang kusandang untuk sekian bulan. Tak pernah kulupakan bagaimana aku mencoret buku diaryku dengan tekanan waktu itu, hatiku telah retak tak berbentuk, memaksaku untuk memungut setiap kepingan duka dari danau kepedihan, kapan berakhir. entah, masih tak kutemui jawab, hanya ada luka menganga dan dengan sendu senyum tipis kuujar: terima kasih, KAU telah memberiku episode duka Allah. Ternyata karena hal tersebut membuatku menjadi gadis kuat dan mandiri meskipun butuh waktu panjang untuk sadar akan hal tersebut.
Aku telah kehilangan kakiku sewaktu kecelakaan 1 tahun silam. Kakiku harus diamputasi karena saraf-saraf di lututku telah remuk. Kecelakaan mobil yang sama sekali tidak kami duga. Pak Marno, supir pribadi kami saat itu sebenarnya sudah hati-hati tak pernah sekalipun beliau lalai namun ternyata mobil kami oleng karena menghindar dari orang yang tiba-tiba lari ke jalan. Saat itu pak Marno dengan cepat mengalihkan kemudi sehingga menabrak pohon pembatas jalan, berjarak tiga meter dari orang yang hampir ditabrak.
Hal yang membuatku harus mengambil kepingan luka dari kolam kesedihan kembali karena selain aku kehilangan kakiku, aku juga kehilangan adikku yang baru berumur satu tahun. Sebuah pukulan berat bagi keluargaku.
Tak berapa lama keajaibanpun datang, mungkin karena keluargaku tak ingin menambah kesuraman hatiku, mereka bangkit bersama menopangku dengan semangat baru meski aku membenci untuk tidak melupakan kejadian menyeramkan satu tahun yang lalu karena dengan melupakannya aku juga akan melupakan seorang adik yang sangat kusayangi.
“Bho (panggilan sayang kakak untukku) walaupun mungkin segala sesuatu tidaklah berjalan sesuai kehendak kita, tapi kau harus tetap percaya bahwa apapun yang Allah berikan, itulah yang terbaik. Jika segala sesuatu tidak berjalan baik, percayalah. Semua itu hanya masalah WAKTU. Allah pasti akan menjadikan segalanya indah pada waktunya nanti. All we can do just the best. And let God do the best.”
Kakak membelai kepalaku dengan lembut, manik-manik mataku kembali mengembun. Aku mengangguk, dilain sisi aku mencoba memahami kata yang sulit kuterima dan disisi lain membenarkan kata-kata kakak, meski hal ini seringkali sulit kulakukakan.
Dan Ayah juga berpesan: yang kita harapkan terkadang jauh dari kenyataan. Hidup memang penuh misteri dan kejutan. Tapi bagaimana kita menghadapi kejutan hidup dengan segala keikhlasan dan kesabaran, itulah KEDEWASAAN.
Ibupun tak kalah untuk menguatkan, Allah itu romantis dik, selalu memberikan kejutan dengan caraNYA, hanya saja seringkali kita negatif thinking dalam tahap proses diberikannya kejutan tersebut. Bersabarlah dalam masa penantian tersebut.
Duh Allah terima kasih karena kau telah memberikanku malaikat bumi yang dengan tulus setia mengiringi langkahku menujuMU. Tak pernah sekalipun dalam setiap episode kehidupanku malaikat bumiku menggandengku selalu tanpa kalamMU.
&&&
            Minggu siang yang teduh, aku duduk ditepi area taman setelah puas jalan-jalan. Sekarang aku lebih terbiasa dengan kondisiku, malahan dengan kondisi ini aku semakin dekat dengan Allah.
            Aku melihat seorang gadis yang duduk diatas ayunan yang sesekali diayunkannya dengan pandangan mata sendunya. Aku yakin dia adalah gadis yang kutemui didepan sekolahan beberapa hari yang lalu. Segera ku ambil kruk untuk menghampirinya.
            “Gadis kertas.” Sapaku padanya setelah aku duduk diayunan sebelahnya.
            Dia menoleh. “Diamlah, aku sedang membenci dunia.”
“Karena apa?”
“Karena dunia mengasingkan aku dari segala cinta. Karena tidak ada lagi yang peduli padaku. Kau mau mendengar kisahku?”
Aku tak tahu mengapa ia merasa perlu untuk menceritakan kisah pribadinya tersebut tapi aku juga tidak menolaknya, kudengarkan segala cerita yang meluncur dari kehidupannya.
“Bukan aku yang menginginkan seperti ini. Aku hanya terpaksa. Kau tahu bagaimana rasanya orang tuamu broken home? Oleh Ayahmu tak diakui anak, oleh ibumu tak pernah memperdulikanmu dan terkesan lepas tangan dengan kehidupannya dan oleh ketiga kakakmu yang selalu sibuk dengan dunianya sendiri.”
Dia menendang batu yang berada disekitar kakinya. “Aku seharusnya sekarang sudah mati.” Ujarnya dengan nada yang sudah turun satu oktav.
Aku menoleh serius ke arahnya.
“Aku akan mati dengan cara bunuh diri karena kupikir hal tersebut akan membuatku merasa tenang. Seharusnya aku sudah mati jika supir dulu itu tidak membanting setir.”
Aku terkesiap ketika memoriku kembali ke saat aku dan keluargaku mengalami kecelakaan. Gadis inilah yang tiba-tiba lari kearah jalanan untuk acara bunuh dirinya. Itulah alasan mengapa aku seperti pernah melihat gadis disampingku ini.
Gemeletuk gigiku terasa ngilu tapi yang lebih kurasakan adalah ngilu didalam hatiku. Saat itu juga aku meninggalkannya. Berderai kembali air mataku.
“Hei ada apa?” teriaknya berkali-kali tanpa sekalipun aku jawab. “Hei, kenapa kau tiba-tiba pergi?” Ternyata dia menyusulku, aku mempercepat langkahku meski akhirnya tetap saja tersusul olehnya. “Kenapa kau menangis? Seharusnya aku yang menangis.” Mungkin jika disaat itu aku tidak kembali sekalut ini aku akan tertawa mendengar ucapannya tadi, tapi sayang hatiku…
“SUPIR YANG MEMBANTING SETIR ADALAH SUPIR KELUARGAKU. KECELAKAAN ITU TELAH MEMAKSAKU UNTUK KEHILANGAN ADIK KECIL DAN KAKIKU.” Teriakku tertahan, teriakan yang kupendam dengan amarah menggelegak.
Dia menatapku dengan keterkejutannya. Wajahnya mendadak pias.
&&&
Beberapa hari setelah kejadian di taman. Seperti biasanya, mengunjungi makam adik adalah rutinitas bulanan kami. Dengan lapang aku dan keluarga mengunjungi makam adik kecil kami. Saat itu selarit senja seakan menyenandungkan lagu di hati kami. Didepan makamnya kami terpaku, mengedarkan jejak rindu yang kami bungkus dengan cara kami masing-masing sembari menangkupkan tangan dalam gerimis liris dik, aku berbicara kata dalam bait-bait puisiku untuk adikku:
Kusematkan sejuta do’a untuk dikau karena ini yang aku punya, adikku
hanya ini, hati dan mulutku saja
semoga manik-manik kebaikan melingkupimu, membawamu dalam kidung suarga
kau tahu dik? baru beberapa bulan tapi aku masih sangat kehilanganmu
bukan karena sesal tapi waktu tak cukup lama bersama menyatukan kita
telah habis tenggat masa nafasmu.
maka aku rela, kau kembali padaNya
selamat tinggal dik, semoga kau lebih bahagia disana :)
peluk ciumku dari imaji
sampai kapanpun dik, cintamu selalu damai dalam relungku
sampai kapanpun, adik harus yakin padaku…
Jauh di tepi area pemakaman aku melihat si gadis kertas berdiri sendu menatap kearah kami. Aku tersenyum hangat, seharusnya aku tak perlu semarah itu
Teringat aku belajar dari kakak mengapa bisa setegar sekarang ini jawabannya dia, “Dan tak apa jika kau berduka, tapi selebihnya kau harus terima. Semua sudah kehendaknya. Itu yang terbaik, tinggal kau ambil hikmahnya.”
Aku menghampiri gadis kertas yang sejak tadi bersembunyi sewaktu aku mulai melangkah menuju ketempatnya berada.
“Hei, maaf ya.” Ujarku sembari kuulurkan tanganku padanya. Dia tersenyum meski ragu-ragu. “Tak seharusnya aku memperlakukanmu seperti itu.”
“Maaf.” Ujarnya lirih.
“Bukankah Allah maha pemaaf, mengapa sebagai hambaNYA kita tidak saling memaafkan.” Kuukir senyum tulus untuknya.
Sendu matanya kini beralih menjadi binar kegembiraan.
Adzan ashar berkumandang, kugenggam gadis kertas tersebut kearah masjid berada tak jauh dari area pemakaman. Ayah, ibu dan kakak menyusul dari arah belakang sembari tersenyum menatap kami berdua.
Duh Allah, karena semua peristiwa ini membuatku mengenal sahabat yang juga butuh cahayaMU. Maka jangan pernah lepaskan kami dari genggamanMU. (SELESAI).


Menang juara ke 3 se-Surakarta
Yang mengadakan BIKRO ISLAM HIMAPSI UNS 
Tahun 2011


0 komentar:

Posting Komentar