Usai pelajaran di kelas aku berjalan lambat
menuju gerbang sekolah. Sendiri. Angin menerpa badan dan mengibarkan kerudung
yang membalut kepalaku. Tiba-tiba pandangan mataku tertuju kearah remasan
kertas yang menggelinding diterbangkan angin tepat didekat kakiku. Iseng kuambil
kertas tersebut.
Aku benci hal-hal yang berhubungan denganmu, mulai saat ini…
kamu membuatku selalu berpikir bahwa aku salah, kamu selalu
membuatku terlihat bodoh diantara teman-teman yang lain, dan kamu selalu
membuatku merasakan kegetiran,
apa salahku terhadap kamu?
jikapun aku punya salah,
tolong…jangan hukum aku seperti ini, tolong…jangan kau hukum
aku dengan caramu ini.
aku mau kejelasan yang sesungguhnya, tegur aku dengan kasih,
nasihati aku dengan cinta. Jadi tolong katakan saja apa maumu, jangan
berbicara dan menusukku seenaknya. Itu semua sungguh sangat menyakitkan.
Dan aku sudah tidak kuat untuk menahan sikapmu terhadapku.
kalau ini yang kau inginkan aku akan katakan pada dunia bahwa :
AKU TIDAK MENCINTAIMU, AKU TIDAK PERNAH MEMIKIRKANMU, AKU TIDAK
MEMBUTUHKANMU… (aku sungguh sedang kebingungan.)
Selesai sudah perkara, begitukah yang kau inginkan. Tapi kata
habis itu hanya ada di kata-kata tidak di hatiku.
Papa, Mama malaikat bumiku…salahkah aku jika aku mencintaimu
dengan caraku tapi mengapa kau hanya diam. BICARALAH DIDEPANKU DENGAN BAIK, APA
SALAHKU!
aku sangat ingin dicintai oleh kalian tetapi mengapa aku tak dicinta.
Karena bagiku kalian terindah…dan sampai kapanpun selalu terindah… lalu harus
bagaimana aku mengungkapkannya pa, ma…
AKU TIDAK MENCINTAIMU, AKU TIDAK PERNAH
MEMIKIRKANMU, AKU TIDAK MEMBUTUHKANMU…
Usai membacanya, entah mengapa ada sesak yang
menghimpit hatiku. Kawan, entah siapapun kamu: semoga kau kuat untuk menjalani
kehidupan, semoga Sang Maha membukakan pintu hati teruntuk Malaikat Bumimu.
Seorang gadis berlari kencang kearahku, usianya
kira-kira sebaya denganku. Dia tergesa menyambar kertas remasan itu.
“Kamu membacanya?” tanyanya bersama mata sendu miliknya
yang melihatku dengan lekat dan meneliti setiap jengkal tubuhku. “Tak usah kau
jawab, nggak penting.” Ujarnya sebelum pergi meninggalkanku.
Yang kulakukan hanyalah terpaku menatapnya dan
bermain kata di hati, entahlah sosok gadis itu sepertinya tak asing lagi bagiku.
Aku pernah melihatnya, barang sekali.
Aku memang tidak tahu bagaimana rasanya berada
diposisimu, gadis kertas. Karena bagiku keluarga adalah malaikat bumi yang
mendamaikan kehidupanku. Lihat saja salah satu episode kehidupanku, ketika aku
mulai bangkit dari keterpurukan dan keluarga menguatkanku untuk tetap berdiri
tegak.
Aku mencomot tangkupan roti tawar yang dibuat
oleh kakak. “Nyam nyam enaknya, makasih ya kak.”
Kakak menggeleng-gelengkan kepalanya. ”Berdo’a
dulu sebelum makan.” Tegurnya tak luput dengan sebuah senyuman dibibir tipisnya.
“Terburu-buru kak.” Cepat kutelan gigitan
pertama yang terlanjur kukunyah tadi, baru kemudian berdoa.
Kulangkahkan kakiku dan bruuuk, suara berdebam
keras itu datang dari tubuhku yang oleng dan jatuh ke lantai. Ibu langsung
menghampiriku dan memapahku ke kursi dekat kakak. Kakak membantuku untuk duduk
dan ayah tersenyum menatapku. Kutafsirkan arti pandangan mata beliau supaya aku
harus kuat menghadapi segalanya.
“Maaf bu lupa.” Kataku demi melihat rasa
khawatir membayang diwajahnya. “Thia nggak papa kok, Thia baik-baik saja, hanya
butuh waktu untuk Thia terbiasa.” Padahal ada rasa nyeri yang berantakan tepat
diketiakku.
Hari ini adalah hari pertamaku menggunakan alat
bantu berjalan (kruk) kesekolah, mungkin
karena belum terbiasa saja sehingga sering membuatku terjatuh. Sebenarnya aku
khawatir juga dan membayangkan hal-hal yang mungkin terjadi di sekolah nanti
tapi aku harus kuat.
,
“Kak, anterin. Aku belum terbiasa memakai sepeda
lagi.”
Kakak mengangguk. Ketika kakak mengambil kunci
motor aku terlebih dahulu pamit pada ayah dan ibu. Ayah mengusap kerudungku
dengan lembut dan menciumku sedangkan ibu menciumku dan memelukku.
Sampai kapanpun, bagiku
keluarga tetaplah muara mata air bening yang selalu membasuhku dengan kebaikan,
merefresku dengan kesegaran serta menghangatkan hatiku kala aku ‘kedinginan’
dengan kehidupan yang tak bersahabat.
Tak terkira sudah
berapa juta kata telah Ayah, Ibu serta Kakak laki-lakiku selipkan dalam
relungku. Mencelupkanku dengan kalam hingga aku terbenam. Salah jika aku tumbuh
menjadi seperti sekarang ini karena aku baik sebab pada hakikatnya aku bisa
baik adalah karena kalianlah yang terbaik.
Oleh karena semua itu
aku haturkan terima kasih banyak untuk permata permai yang menghijau dan
tertanam indah ditiap hela nafasku, meski aku tahu kata-kata ini tak sebanding
artinya dengan apa yang telah kalian lukis di langit hatiku tapi paling tidak
aku mencintai kalian dengan caraku sendiri.
&&&
Satu tahun yang penuh
badai dalam kehidupanku hingga aku selalu tersungkur dan tak menemukan cahaya
meskipun pagi telah datang. Waktuku lebih banyak kugunakan untuk menyendiri dalam
kegelapan didalam kamarku, baru ketika malam tiba aku buka pintu balkon kamar.
Serambi balkon kamarku
terlihat sangat indah ditimpa sinar rembulan, menggantung bersama bintang
gemintang. Aku mengambil kursi putih untuk menikmatinya dengan menghembuskan
nafas dan memejamkan mata. Semilir angin memanjakanku dengan belaian lembut.
Tanpa terasa bulir-bulir
kristal mataku hangat mengalir seiring kukenang banyak yang takut dan merasa
kasihan terhadap kondisiku, dari anak-anak kecil disekitar kompleks rumahku dan
teman-teman disekolahan. Mungkin lebih tepatnya entah mengapa aku merasakan
mereka merendahkan diriku yang memiliki tubuh yang tak sempurna. Aku tidak suka
dipandang seperti itu, setelah kejadian kakiku yang harus diamputasi, perlakuan
semua orang menjadi berbeda. Dan aku membenci semuanya. Dan, dan aku lebih
benci tepat disaat aku tumbang sahabatku harus pindah keluar kota mengikuti ayahnya
tanpa pamit.
Rapuh dan terluka,
adalah kata-kata yang kusandang untuk sekian bulan. Tak pernah kulupakan
bagaimana aku mencoret buku diaryku dengan tekanan waktu itu, hatiku telah retak tak berbentuk, memaksaku untuk
memungut setiap kepingan duka dari danau kepedihan, kapan berakhir. entah,
masih tak kutemui jawab, hanya ada luka menganga dan dengan sendu senyum tipis
kuujar: terima kasih, KAU telah memberiku episode duka Allah. Ternyata karena
hal tersebut membuatku menjadi gadis kuat dan mandiri meskipun butuh waktu
panjang untuk sadar akan hal tersebut.
Aku telah kehilangan
kakiku sewaktu kecelakaan 1 tahun silam. Kakiku harus diamputasi karena
saraf-saraf di lututku telah remuk. Kecelakaan mobil yang sama sekali tidak kami
duga. Pak Marno, supir pribadi kami saat itu sebenarnya sudah hati-hati tak
pernah sekalipun beliau lalai namun ternyata mobil kami oleng karena menghindar
dari orang yang tiba-tiba lari ke jalan. Saat itu pak Marno dengan cepat
mengalihkan kemudi sehingga menabrak pohon pembatas jalan, berjarak tiga meter
dari orang yang hampir ditabrak.
Hal yang membuatku
harus mengambil kepingan luka dari kolam kesedihan kembali karena selain aku
kehilangan kakiku, aku juga kehilangan adikku yang baru berumur satu tahun.
Sebuah pukulan berat bagi keluargaku.
Tak berapa lama keajaibanpun
datang, mungkin karena keluargaku tak ingin menambah kesuraman hatiku, mereka
bangkit bersama menopangku dengan semangat baru meski aku membenci untuk tidak
melupakan kejadian menyeramkan satu tahun yang lalu karena dengan melupakannya
aku juga akan melupakan seorang adik yang sangat kusayangi.
“Bho (panggilan sayang
kakak untukku) walaupun mungkin segala sesuatu tidaklah berjalan sesuai
kehendak kita, tapi kau harus tetap percaya bahwa apapun yang Allah berikan,
itulah yang terbaik. Jika segala sesuatu tidak berjalan baik, percayalah. Semua
itu hanya masalah WAKTU. Allah pasti akan menjadikan segalanya indah pada
waktunya nanti. All we can do just the best. And let God do the best.”
Kakak membelai kepalaku
dengan lembut, manik-manik mataku kembali mengembun. Aku mengangguk, dilain
sisi aku mencoba memahami kata yang sulit kuterima dan disisi lain membenarkan
kata-kata kakak, meski hal ini seringkali sulit kulakukakan.
Dan Ayah juga berpesan:
yang kita harapkan terkadang jauh dari kenyataan. Hidup memang penuh misteri
dan kejutan. Tapi bagaimana kita menghadapi kejutan hidup dengan segala
keikhlasan dan kesabaran, itulah KEDEWASAAN.
Ibupun tak kalah untuk
menguatkan, Allah itu
romantis dik, selalu memberikan kejutan dengan caraNYA, hanya saja seringkali kita
negatif thinking dalam tahap proses diberikannya kejutan tersebut. Bersabarlah dalam masa
penantian tersebut.
Duh Allah terima kasih karena kau telah memberikanku malaikat bumi
yang dengan tulus setia mengiringi langkahku menujuMU. Tak pernah sekalipun
dalam setiap episode kehidupanku malaikat bumiku menggandengku selalu tanpa
kalamMU.
&&&
Minggu
siang yang teduh, aku duduk ditepi area taman setelah puas jalan-jalan.
Sekarang aku lebih terbiasa dengan kondisiku, malahan dengan kondisi ini aku
semakin dekat dengan Allah.
Aku
melihat seorang gadis yang duduk diatas ayunan yang sesekali diayunkannya
dengan pandangan mata sendunya. Aku yakin dia adalah gadis yang kutemui didepan
sekolahan beberapa hari yang lalu. Segera ku ambil kruk untuk menghampirinya.
“Gadis
kertas.” Sapaku padanya setelah aku duduk diayunan sebelahnya.
Dia
menoleh. “Diamlah, aku sedang membenci dunia.”
“Karena apa?”
“Karena dunia
mengasingkan aku dari segala cinta. Karena tidak ada lagi yang peduli padaku. Kau
mau mendengar kisahku?”
Aku tak tahu mengapa ia
merasa perlu untuk menceritakan kisah pribadinya tersebut tapi aku juga tidak
menolaknya, kudengarkan segala cerita yang meluncur dari kehidupannya.
“Bukan aku yang
menginginkan seperti ini. Aku hanya terpaksa. Kau tahu bagaimana rasanya orang
tuamu broken home? Oleh Ayahmu tak diakui anak, oleh ibumu tak pernah
memperdulikanmu dan terkesan lepas tangan dengan kehidupannya dan oleh ketiga kakakmu
yang selalu sibuk dengan dunianya sendiri.”
Dia menendang batu yang
berada disekitar kakinya. “Aku seharusnya sekarang sudah mati.” Ujarnya dengan
nada yang sudah turun satu oktav.
Aku menoleh serius ke
arahnya.
“Aku akan mati dengan
cara bunuh diri karena kupikir hal tersebut akan membuatku merasa tenang.
Seharusnya aku sudah mati jika supir dulu itu tidak membanting setir.”
Aku terkesiap ketika
memoriku kembali ke saat aku dan keluargaku mengalami kecelakaan. Gadis inilah
yang tiba-tiba lari kearah jalanan untuk acara bunuh dirinya. Itulah alasan
mengapa aku seperti pernah melihat gadis disampingku ini.
Gemeletuk gigiku terasa
ngilu tapi yang lebih kurasakan adalah ngilu didalam hatiku. Saat itu juga aku
meninggalkannya. Berderai kembali air mataku.
“Hei ada apa?”
teriaknya berkali-kali tanpa sekalipun aku jawab. “Hei, kenapa kau tiba-tiba
pergi?” Ternyata dia menyusulku, aku mempercepat langkahku meski akhirnya tetap
saja tersusul olehnya. “Kenapa kau menangis? Seharusnya aku yang menangis.”
Mungkin jika disaat itu aku tidak kembali sekalut ini aku akan tertawa
mendengar ucapannya tadi, tapi sayang hatiku…
“SUPIR YANG MEMBANTING
SETIR ADALAH SUPIR KELUARGAKU. KECELAKAAN ITU TELAH MEMAKSAKU UNTUK KEHILANGAN
ADIK KECIL DAN KAKIKU.” Teriakku tertahan, teriakan yang kupendam dengan amarah
menggelegak.
Dia menatapku dengan
keterkejutannya. Wajahnya mendadak pias.
&&&
Beberapa hari setelah
kejadian di taman. Seperti biasanya, mengunjungi makam adik adalah rutinitas
bulanan kami. Dengan lapang aku dan keluarga mengunjungi makam adik kecil kami.
Saat itu selarit
senja seakan menyenandungkan lagu di hati kami. Didepan makamnya kami terpaku,
mengedarkan jejak rindu yang kami bungkus dengan cara kami masing-masing sembari
menangkupkan tangan dalam gerimis liris dik, aku berbicara kata dalam bait-bait
puisiku untuk adikku:
Kusematkan sejuta do’a
untuk dikau karena ini yang aku punya, adikku
hanya ini, hati dan
mulutku saja
semoga manik-manik
kebaikan melingkupimu, membawamu dalam kidung suarga
kau tahu dik? baru
beberapa bulan tapi aku masih sangat kehilanganmu
bukan karena sesal tapi
waktu tak cukup lama bersama menyatukan kita
telah habis tenggat masa
nafasmu.
maka aku rela, kau
kembali padaNya
selamat tinggal dik,
semoga kau lebih bahagia disana :)
peluk ciumku dari imaji
sampai kapanpun dik,
cintamu selalu damai dalam relungku
sampai kapanpun, adik
harus yakin padaku…
Jauh di tepi area pemakaman aku melihat si gadis kertas berdiri sendu menatap kearah kami. Aku tersenyum hangat, seharusnya aku tak perlu semarah itu
Teringat aku belajar dari kakak mengapa bisa setegar sekarang ini jawabannya dia, “
Aku menghampiri gadis
kertas yang sejak tadi bersembunyi sewaktu aku mulai melangkah menuju
ketempatnya berada.
“Hei, maaf ya.” Ujarku
sembari kuulurkan tanganku padanya. Dia tersenyum meski ragu-ragu. “Tak
seharusnya aku memperlakukanmu seperti itu.”
“Maaf.” Ujarnya lirih.
“Bukankah Allah maha
pemaaf, mengapa sebagai hambaNYA kita tidak saling memaafkan.” Kuukir senyum tulus
untuknya.
Sendu matanya kini
beralih menjadi binar kegembiraan.
Adzan ashar
berkumandang, kugenggam gadis kertas tersebut kearah masjid berada tak jauh
dari area pemakaman. Ayah, ibu dan kakak menyusul dari arah belakang sembari
tersenyum menatap kami berdua.
Duh Allah, karena semua
peristiwa ini membuatku mengenal sahabat yang juga butuh cahayaMU. Maka jangan
pernah lepaskan kami dari genggamanMU. (SELESAI).
Menang juara ke 3 se-Surakarta
Yang mengadakan BIKRO ISLAM HIMAPSI UNS
Tahun 2011
0 komentar:
Posting Komentar