“A’uudzu billaahi minasysyaithoonirrajiim.”
Kutolehkan kepalaku yang sedari tadi menunduk membaca
mushaf kearah gadis kecil yang tahu-tahu sudah berada disampingku. Suaranya mengayun begitu indah, gadis kecil itu sangat meresapi tilawahnya begitu juga denganku yang memutuskan
untuk meresapi tilawahnya.
“Bismillahirrahmaanirrahiim.”
Hatiku bergetar, pun dengan
seluruh persendianku yang ikut pula bergetar hebat. Bendungan perasaan yang
kupendam sedikit demi sedikit meluruh. Kubiarkan setiap tetesan air mata yang mengalir tenang, setenang hatiku saat ini.
“Arrahmaan. ‘Allamalqur’an…”
Gadis kecil itu membaca surat ke 55 dalam al-qur’an. Ar
Rahman yang maha pemurah. Tentang segala nikmat Allah SWT yang dapat dirasakan
didunia. Arrahmaan, surat yang aku sukai, surat
yang mengajarkan aku arti rasa syukur padaNYA.
“Fabiayyi aalaai rabbikumaa tukadzibaan.”
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu
dustakan?
Suaranya mendayu memecahkan keheningan hatiku membuatku kembali
mengingat segala kenikmatan yang tak pernah berhenti mengalir dariNya pada
seluruh makhluknya yang terkadang banyak diabaikan.
Suaranya tersendat ada bulir-bulir bening yang membasahi pipi pualam gadis kecil
tersebut.
“Ma, aku
rindu.” Lirih aku mendengar suara itu, di
tangannya selembar foto seorang wanita, yang aku perkirakan adalah ibunya.
“Dik.” Pelan, kusentuh bahunya.
Tanpa ekspresi, anak kecil itu menatapku.
Mungkin tepatnya ekspresi dingin yang membuat bulu kudukku merinding.
“Ada apa kak?” Tanyanya pelan.
Aku menggeleng sembari mengambil tempat duduk
didekatnya. “Pintar sekali qira’ahnya.” Aku tersenyum sembari menatapnya
lembut.
“Aku hanya membaca kak, aku belum bisa
menghafalnya. Aku akan mengecewakan ibu jika aku tidak bisa menghafalnya.”
“Memangnya ibu dimana?” tanyaku penasaran
mengapa seorang gadis kecil berada disini sendirian saja. “Apa sekarang adik
sedang menunggu ibu?”
Mata sayunya menatapku. Lama aku menunggu jawabannya.
“Ya.” Tapi beberapa detik kemudian kepalanya menggeleng. Sangat
mengherankan, jawaban yang tidak sinkron.
“Maksudnya?”
“Ibu meninggalkanku.”
“Kemana?” Dalam batin aku menyesali sikap
ceroboh ibu yang tidak memperhatikan anak sehingga anaknya tertinggal di masjid
serta sikap ibu yang mungkin terlalu menuntut anak melakukan sesuatu yang
membahagiakan diri sang ibu tanpa memikirkan perasaan anaknya. “Ya sudah, mau
kakak antar sampai ke rumah? disebelah mana rumah kamu dik?” tawarku halus
padanya.
Senyum hangat merekah dibibirnya. “Surga.” Pekiknya dengan mata berbinar. “Kakak bisa
antar? Aku rindu ibu, kak.” Rajuknya manja.
Sontak aku terkejut mendengar jawaban dari gadis
kecil. Aku mencari-cari jawaban yang tepat untuk kuberikan padanya. “Surga?”
mataku menjawab binar matanya dengan keceriaan pula. “Wah alamatnya jauh dik.
Ada syaratnya juga lho.”
“Apa syaratnya kak? Apa kak? Aku mau tahu.”
“Beli tiket dulu.” Ujarku padanya.
“Dimana kak?” keningnya tampak berkerut bingung.
“Gampang dik, kalau adik punya kemauan, kakak
yakin adik akan dapat tiket ke surga dengan mudah. Adik hanya perlu berdo’a dan
menuruti apa kata papa. Pasti Allah langsung mengabulkan permintaan adik dan
memberikan adik tiketnya. Kan ridho Allah tergantung ridho orang tua.”
“Hanya itu kak? Hanya itu saja?”
Hatiku begitu trenyuh melihat manik-manik
matanya yang berbinar. Aku tersenyum sembari mengelus lembut gadis kecil
yang sama sekali tak kukenal ini.
“Aku bisa, aku bisa. Makasih ya Kak, aku mau
pulang dulu. Mau beli tiket sama papa ah.”
Kaki kecilnya riang menari zigzag, tangannya
terulur kekanan dan kekiri bersama-sama. Entah senandung apa yang kini di
nyanyikan gadis kecil itu.
Semoga lagu bahagia :)
***
Seorang wanita menghampiriku saat senyum belum
lekang dari bibirku. Dahinya mengerut.
“Mbak tadi bicara dengan siapa?” tanyanya heran
sembari menoleh seperti mencari sesuatu.
“Seorang gadis kecil.”
Dahi mbak yang berada dihadapanku semakin
mengerut. “Nggak ada siapa-siapa tuh mbak.”
“Lha terus tadi siapa? gadis kecil yang
berbicara denganku.”
Hawa dingin menyebar. Membuat bulu kudukku
meremang. Lamat aku mendengar semua disekitar seperti berdzikir, seakan
pendengaranku menjadi lebih peka. (TAMAT)
Menang juara 1 Sekampus UNS
0 komentar:
Posting Komentar