Minggu, 10 Agustus 2014

GADIS KECIL

“A’uudzu billaahi minasysyaithoonirrajiim.”
Kutolehkan kepalaku yang sedari tadi menunduk membaca mushaf kearah gadis kecil yang tahu-tahu sudah berada disampingku. Suaranya mengayun begitu indah, gadis kecil itu sangat meresapi tilawahnya begitu juga denganku yang memutuskan untuk meresapi tilawahnya.
“Bismillahirrahmaanirrahiim.”
Hatiku bergetar, pun dengan seluruh persendianku yang ikut pula bergetar hebat. Bendungan perasaan yang kupendam sedikit demi sedikit meluruh. Kubiarkan setiap tetesan air mata yang mengalir tenang, setenang hatiku saat ini.
“Arrahmaan. ‘Allamalqur’an…
Gadis kecil itu membaca surat ke 55 dalam al-qur’an. Ar Rahman yang maha pemurah. Tentang segala nikmat Allah SWT yang dapat dirasakan didunia. Arrahmaan, surat yang aku sukai, surat yang mengajarkan aku arti rasa syukur padaNYA.
“Fabiayyi aalaai rabbikumaa tukadzibaan.”
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
Suaranya mendayu memecahkan keheningan hatiku membuatku kembali mengingat segala kenikmatan yang tak pernah berhenti mengalir dariNya pada seluruh makhluknya yang terkadang banyak diabaikan. Suaranya tersendat ada bulir-bulir bening yang membasahi pipi pualam gadis kecil tersebut.
 “Ma, aku rindu.” Lirih aku mendengar suara itu, di tangannya selembar foto seorang wanita, yang aku perkirakan adalah ibunya.
“Dik.” Pelan, kusentuh bahunya.
Tanpa ekspresi, anak kecil itu menatapku. Mungkin tepatnya ekspresi dingin yang membuat bulu kudukku merinding.
“Ada apa kak?” Tanyanya pelan.
Aku menggeleng sembari mengambil tempat duduk didekatnya. “Pintar sekali qira’ahnya.” Aku tersenyum sembari menatapnya lembut.
“Aku hanya membaca kak, aku belum bisa menghafalnya. Aku akan mengecewakan ibu jika aku tidak bisa menghafalnya.”
“Memangnya ibu dimana?” tanyaku penasaran mengapa seorang gadis kecil berada disini sendirian saja. “Apa sekarang adik sedang menunggu ibu?”
Mata sayunya menatapku. Lama aku menunggu jawabannya. “Ya.”  Tapi beberapa detik kemudian kepalanya menggeleng. Sangat mengherankan, jawaban yang tidak sinkron.
“Maksudnya?”
“Ibu meninggalkanku.”
“Kemana?” Dalam batin aku menyesali sikap ceroboh ibu yang tidak memperhatikan anak sehingga anaknya tertinggal di masjid serta sikap ibu yang mungkin terlalu menuntut anak melakukan sesuatu yang membahagiakan diri sang ibu tanpa memikirkan perasaan anaknya. “Ya sudah, mau kakak antar sampai ke rumah? disebelah mana rumah kamu dik?” tawarku halus padanya.
Senyum hangat merekah dibibirnya. “Surga.” Pekiknya dengan mata berbinar. “Kakak bisa antar? Aku rindu ibu, kak.” Rajuknya manja.
Sontak aku terkejut mendengar jawaban dari gadis kecil. Aku mencari-cari jawaban yang tepat untuk kuberikan padanya. “Surga?” mataku menjawab binar matanya dengan keceriaan pula. “Wah alamatnya jauh dik. Ada syaratnya juga lho.”
“Apa syaratnya kak? Apa kak? Aku mau tahu.”
“Beli tiket dulu.” Ujarku padanya.
“Dimana kak?” keningnya tampak berkerut bingung.
“Gampang dik, kalau adik punya kemauan, kakak yakin adik akan dapat tiket ke surga dengan mudah. Adik hanya perlu berdo’a dan menuruti apa kata papa. Pasti Allah langsung mengabulkan permintaan adik dan memberikan adik tiketnya. Kan ridho Allah tergantung ridho orang tua.”
“Hanya itu kak? Hanya itu saja?”
Hatiku begitu trenyuh melihat manik-manik  matanya yang berbinar. Aku tersenyum sembari mengelus lembut gadis kecil yang sama sekali tak kukenal ini.
“Aku bisa, aku bisa. Makasih ya Kak, aku mau pulang dulu. Mau beli tiket sama papa ah.”
Kaki kecilnya riang menari zigzag, tangannya terulur kekanan dan kekiri bersama-sama. Entah senandung apa yang kini di nyanyikan gadis kecil itu.
Semoga lagu bahagia :)
***
Seorang wanita menghampiriku saat senyum belum lekang dari bibirku. Dahinya mengerut.
“Mbak tadi bicara dengan siapa?” tanyanya heran sembari menoleh seperti mencari sesuatu.
“Seorang gadis kecil.”
Dahi mbak yang berada dihadapanku semakin mengerut. “Nggak ada siapa-siapa tuh mbak.”
“Lha terus tadi siapa? gadis kecil yang berbicara denganku.”
Hawa dingin menyebar. Membuat bulu kudukku meremang. Lamat aku mendengar semua disekitar seperti berdzikir, seakan pendengaranku menjadi lebih peka. (TAMAT) 

Menang juara 1 Sekampus UNS

0 komentar:

Posting Komentar