Minggu, 10 Agustus 2014

MENGUTUK ANGIN



          Beberapa kristal bening Mamak jatuh menelisip, lalu luruh ke tanah. Tumbuhlah dihatinya semak-semak berduri dari air yang telah luruh. Mamak, wanita itu, meluruhkan segala kepekatan luka. Pekat yang pedih. Masih kudengar jelas utara Mamak kepadaku, tentang kebenciannya, tentang laranya, juga tentang kutukannya pada angin. Suatu ketika perlahan aku lebih menyadarinya dengan kepekatan luka yang semakin kentara.
          “KAU...KAU...” Mamak menunjuk ke arahku, menunjukkan amarah yang tak biasa, matanya berkilat. “Bersumpahlah demi Mamakmu ini.” Suara halusnya bergetar.
          “Maak...” Rajukku tak suka, “Mamak, bagiku bersumpah tak semudah membalikkan telapak tangan. Jadi bisakah Mamak memadamkan bara itu dan biarkan aku menghujamkan kakiku menjadi akar di sini.”
          “BERSUMPAHLAH! DEMI MAMAKMU INI! DEMI SELURUH HIDUP MAMAK YANG TELAH KAU PAHAMI TAPAKNYA.”
Mamak seakan tak mendengar penjelasanku. Aku menatap mata nanar Mamak. Ada bongkahan kristal yang masih setia mengambang di sana. Hati anak siapa yang tega melihat ibu yang membesarkan penuh kasih terluka semacam itu. Jika kuturutkan nafsu dendamku, tentu binasalah angin. Aku masukkan ia ke dalam toples, tepat di ruang kedap udara. Maka tak lama ia akan tiada. Maka segala luka Mamak akan menguar sejalan dengan adanya ruang kedap udara.
          “JANGAN KAU LIHAT MATA MAMAK SAJA, LIHAT MATA HATI MAMAKMU INI.” Setiap kali Mamak bicara dan tak mendapatkan apa yang ia inginkan, nada bicaranya akan naik satu oktaf. “BENING. KAU TAHU DENGAN PASTI, DI SANALAH KAU DILAHIRKAN DAN BERKEMBANG. KINI KAU PUN TERUSIR DARI RAHIM YANG MEMBESARKANMU. LIHAT YANG TERJADI PADA APAKMU PULA.”
          Bening, demikian Mamak memanggilku. Namaku, juga kisah ini sepertinya bisa dibilang bertaut. Kisah bagaimana kutukan Mamak pada angin begitu melekat. Kisah ini bermula saat aku belum tercipta. Aku tahu, sebab Mamak selalu menceritakannya dengan bara yang sama, membakar setiap inci kehidupannya, bahkan sampai aku bertambah usia. Serta kisah Apak atas namaku.
§§§
Bagi Mamak, hal yang perlu ia beri benang merah tanda duka adalah bayangan. Dari bayanganlah kau tahu dengan pasti sesuatu yang kau jaga tak bisa nyata ada. Sialnya, bayangan itu melingkupi angin yang datangnya dari kampung kelahiran. Maka bermulalah kisah kutukan Mamak pada angin.
Saat itulah angin datang ketika Mamak mulai merasakan kesemutan yang menjalar, luka borok, bahkan jari jemarinya mulai pupus. Angin menghancurkan Mamak. Mereka mengepung Mamak dengan tatapan mata pisau, cemoohan penuh nanah, hingga pengusiran. Awalnya Mamak, Apak, dan aku berusaha bertahan, tapi terjangan angin menghebat. Mereka layaknya moksa binatang. Angin menyandangkan gelar kutukan pada Mamak. Tanpa mereka tahu bagi Mamak kutukan yang sebenarnya terjadi adalah tersebab pengutuk, dan bukan tersebab sakitnya.
Tak lama titah pengusiran turun. Mamak, luka hati penuh memar. Apak yang dirunduk kemurungan. Aku yang diliput pedih. Mata air air mata kami. Juga kutukan yang kemudian Mamak lontar dan camkan. Aku tahu dengan pasti bagaimana luka itu tertoreh. Bagaimanapula ketika Mamak meracau tak tentu tentang laranya.
Pedihnya, Mamak dan Apak tak akan pernah bisa kembali ke tanah yang dulu menimangku. Bahkan ketika Mamak dan Apak berusaha keras selama empat tahun di sebuah rumah sakit khusus penanganan penyakit Mamak hingga semua lukanya sembuh. Kau pikir kami tidak mencoba kembali. Pada akhirnya kami diusir ke hutan pembuangan. Satu tahun kami mencoba hidup sederhana, berpikir sederhana, dan menikmati hutan yang menyediakan kesederhanaan. Tapi tidak dengan Mamak, kutukannya menjadi bola salju yang semakin digelindingkan semakin besar.
Apak menggaruk kepalanya keras dan cepat seperti garukan terhadap bayangan gelap tentang kutukan istrinya, seperti hasil garukan yang hendak ia singkirkan dengan lekas. Saat itu aku genap berusia 17 tahun. Mengerti benar cara membaca gerak. Sedangkan aku, dendam tetap dendam bukan? Demi cinta, aku melakukan ini. Aku memintal doa Mamak untuk menggulung semua angin. Tanpa kecuali, meski satu diantaranya pernah menjadi sebilah hatiku. Mada.
§§§
          Dan kini, aku berdiri menantang matahari. Tepat berada di ujung barat. Tepat pula membuat siluet gundukan makam Apak terlihat diliputi suasana magis. Tidak, tidak, bukan seperti itu ceritanya jika kau berpikir Apakku mati bunuh diri, Apak terlalu mulia untuk itu. Apak dibunuh angin yang merisau. Mamak, aku, sekarang ini seperti menunggu giliran. Kapan nyawa kami tercerabut ataupun dicerabutkan. Sebab angin yang merisau meluas. Gencar membuat kami seperti mangsa buruan.
          Kejadian itu seperti rencana Tuhan. Awalnya Apak menyamar menjadi pedagang di pasar, rindu Apak pada masyarakat telah begitu rekatnya. Tak tahu bagaimana caranya mereka tahu lelaki itu adalah Apak dan mengusirnya dengan kekasaran binatang. Mereka kira Apak pembawa malapetaka. Lagi-lagi Apak meneguk kepedihan akibat pengusiran juga hinaan. Setelahnya kejadian itu tentu juga atas garis Tuhan, banyak orang terserang penyakit macam-macam. Mamak sebut itu karma. Apak sebut itu pembilasan dosa. Apak tak melakukan apa-apa, sungguh, entah mengapa mereka bisa mengalami hal itu. Bukankah aku tak boleh bertanya tentang takdir?
          Setelahnya dapat ditebak, angin menjadi lebih ganas. Menyelisipkan tubuhnya bahkan di dalam rumah kami, rumah yang dibangun Apak dengan kesederhanaan alam sekitar. Kedatangan mereka menebar ketakutan, tepatnya bukan pada kami, tapi jiwa mereka sendiri. Aku tahu dengan pasti lewat tatapan mata mereka, kau tahu aku bisa membacakan bahkan meski itu bahasa tubuh. Hah, aku sudah berumur 17, aku terlalu banyak belajar tentang kematian. Mungkin Apak memang jauh hari menyiapkanku untuk itu. Situasi ini tak bisa dipungkiri akan terjadikan. Situasi yang akan menjatuhkan keluarga kami lagi.
Apak menatapku -kebiasaan bercakap menatap mata dan gerakanku pun diwariskan dari beliau- mencari senyum yang telah lama kutanggalkan. Yah sewaktu semua belum terjadi, mataku seringkali tersenyum bahkan tertawa, mata bibir hati dan semua inderaku. Apak sangat menyukainya. “Tersenyumlah sayang, jangan pernah biarkan dunia merenggut senyum surgamu.”
          “Bukan dunia yang merenggut Apak, hanya saja aku sedang menyimpannya.” Aku menangkupkan tangan yang berada di bawah permukaan meja. Kedua ibu jariku bersisian, saling memutar berlawanan.
          “Terlalu lama. Tak inginkah kau berbagi bahkan dengan Apakmu ini?”
          “Apaak.”
          “Aah yaa... Apakmu ini merindukan masa lalu yang damai. Ketika Mamakmu masih selembut kembang gula. Ketika kamupun tak pernah melepaskan senyum surgamu itu. Apak kepanasan di sini, banyak bara. Tidak bisakah kita melepaskannya, hmm.”
          “Apaak.”
          “Bening. Seperti apapun bentuknya ketidaknyamanan kau menjalani hidup, jadilah jiwa yang pemaaf. Sebab dia adalah hati yang bening. Apakmu beri nama kau itu sebab Apak ingin kau selalu bening, penuh ketulusan,” Apak mengambil jeda, “Ya Bening ya.”
§§§
          “Penyakit terkutuk itu telah mengalir dalam darah kalian. Itulah alasan kami merasakan bahwa kami harus mempertahankan hidup. Kalian pembawa kematian harus pula mati terlebih dahulu.” Gusarnya angin menukik keleherku. Saat ini Mamak sedang pergi ke ujung desa yang sungai jernihnya mengalir indah. Mengambil persediaan air.
          “Pengecut! Kalian takut mati.” Mataku memerah. Belati yang selama empat tahun ini telah aku asah dengan baik, aku simpan dibalik bajuku. “Kematian itu satu, angin. Jangan sombong untuk bisa hidup. Kau telah salah memakai gaunmu. Sebab gaun itu milik Tuhan. Kematian itu satu, itu artinya kepastian. Hanya saja jalan untuk kesana sangat banyak.”
          Mereka tertawa. Tawa sumbang memuakkan hingga perutku mual. Mereka mulai mengerubungiku dengan badik, memposisikan diri menikam sempurna. “Kau pikir kami tak bisa mencerabutkan nyawamu, hah!”
          Gelenganku pelan, perlahan menguat, membuat tawaku tak terkendali. “Insting binatang membuat kalian menjadi binatang.”
“GADIS TERKUTUK!” teriak mereka membabi buta. Satu sama lain saling berebut menikam. Nafasku terhenti saat itu. Tersenggal cepat. Nafas satu-satuku memburu, demikian juga dengan tikaman mereka. Kekuatan mereka sejuta kali dari anganku. Belati mereka kupegang satu-satu pula. Kukerjapkan mataku cepat. Bayangan hitam di balik tubuh mereka seperti merapal mantra. Mantra kutukan yang sama seperti dilakukan Mamak. Aku tidak tahu jika sesungguhnya kutukan Mamaklah yang membuat kekuatan setan mereka menguat. Kebencian Mamak, dendam Mamak, pembalasan Mamak, kesakitan Mamak, bahkan seluruh hidup Mamak digunakan untuk semua hal itu.
§§§
          “Ya Apak.”
          “Bagimu Bening, apa arti sebuah ketulusan?”
Aku terdiam, menekuri kedua tanganku yang menangkup. Pertanyaan Apak seperti serbuan seribu jarum. Aku sudah lupa, mungkin juga aku benar-benar tidak tahu apa artinya. Ketulusan, aku tak menemukan definisi yang tepat.
“Bening. Bagi Apakmu ini ketulusan itu, jika kau bisa melakukan apapun tanpa hasrat balasan tertentu. Ketulusan itu, jika kau bersedia menyembuhkan luka tanpa tersisa bara sekecil apapun. Ketulusan itu, merelakan jiwamu menjadi pemaaf. Kau tahu apa yang nantinya terjadi?”
Perlahan kepalaku menggeleng. “Kedamaian, ketenangan, kelembutan, kepekaan, kehangatan, dan tentu kebahagiaan. Semua rasa yang mudah sekali menguap jika kau tak punya ketulusan.”
Entah mengapa, setiap kali Apak bicara tiba-tiba kata-katanya selalu berubah menjadi kunci-kunci di sebuah padang. Angin di sana berkesiur. Aku memegang jaring. Kunci-kunci itu terbang. Aku mencoba menangkapnya dengan kesusahan. Kunci Apak membuka satu pintu dari jutaan pintu yang seiring bara Mamak tertutup bagi kebahagiaan. Bagiku tabu bahagia sedang Mamak dilingkari tarian kutukan. Dan Apak telah berhasil membuka dari sekian pintu bernama mata hatiku.
Aku usap batu nisan Apak, “Apak, Bening lupa bagaimana rasanya kebahagiaan itu. Saat Apak berkata-kata, pasti sering mendapati Bening terdiam, saat itulah sebenarnya Bening merenung. Setiap kunci yang Bening temukan dari Apak, tiba-tiba satu per satu menemukan jalan untuk membuat hati Bening kembali tersenyum. Apak, Bening pikir ketulusan itu sungguh bertalian dengan kebahagiaan. Terima kasih Apak telah mengajari Bening. Bening bisa tulus tapi itu belum seratus masih lima puluh, Bening masih butuh belajar. Bening juga masih belajar lebih tahu cara membuat Mamak menjadi selembut kembang gula seperti dulu. Iyakan Apak? Apak bahagia?”
§§§
Sebuah bayangan melesat ketika aku mundur beberapa langkah. Tubuh yang aku tahu betul milik siapa. Aku mulai awas dengan belatiku. Semua terjadi begitu cepat hingga aku rebah ke tanah bersama tubuh Mada. “Tidaaaak,” kristalku mengalir, “Madaaaaa, apa yang telah kau lakukan?” tubuhnya basah darah, basah air mataku.
“Be...ning, ca... tatlah dan ing, at. Ti...dak sem...ua ma..nu..sia menjadi a..ngin. A..ku ada...lah po.hon yang ko...koh untuk se...buuaah ke..yakinan. Perc...caya...lah.” Aku menggigit bibir. Di langit aku seperti melihat Apak mengulurkan tangan. Bukan untuk menyambutku tapi memberi kekuatannya. Kedamaian, ketenangan, kelembutan, kepekaan, kehangatan, dan tentu kebahagiaan. Semua hal itu juga ketulusan yang selalu dibisikkan Apak. Aku sarungkan kembali belatiku. Memejamkan mata, entah apa yang akan terjadi padaku. Biarlah langit yang mengurusnya.
SELESAI
Al-Khansa
300613, 10.09


Menang juara 1 Lomba Festifal Budaya FSSR UNS 2013

SIMBAH

           “Kenapa sih suka ke tempat orang-orang tua di panti jompo ini? Heran deh sama kamu, Dea.” Kata Ibu Sita, istri seorang pejabat dengan sosialita yang berkelas. Beliau juga adalah seorang anak dari ibu yang dititipkan di panti ini.
Aku tersenyum mencoba konsentrasi kembali ke sulaman, kreativitas yang diajarkan salah satu nenek di sini. Sekarang ini aku merasa sangat beruntung, memiliki keluarga besar meski tak sedarah, dan memiliki pengetahuan yang diajarkan orang sepuh yang telah kenyang makan asam garam kehidupan. Aku belajar banyak hal.
“Kalau misalnya kamu suka anak-anak kecil atau baby di panti asuhan, saya tidak akan heran. Tapi tidak dengan panti ini. Coba katakan pada saya, alasan kamu itu. Apakah karena LSM yang mengurusi para manula yang terlantar membuatmu kemudian menyukai mereka. Saya rasa bukan itu.”
Aku mengalihkan pandanganku dari sulaman ke wajah ibu Sita. Tersenyum. Ibu Sita sedang bermain dengan analisisnya, seperti yang sering aku lakukan juga. Dulu sekali, ibu Sita tanpa aku tahu mengamatiku menyuapi ibu beliau. Suapan yang katanya dilakukan dengan keikhlasan. Hmm, jika ibu Sita melihat semua aktivitasku di sini, aku yakin ibu Sita akan melihat semua suapanku seperti itu. Suapan yang sama ikhlasnya seperti ketika aku menyuapi simbahku sendiri. Penyebab aku ikut dan bergerak di bawah LSM yang mengurus tentang orangtua lansia adalah karena keluargaku. Cerita itu kusuguhkan pada kalian, sama persis seperti saat ini kala aku bercerita pada ibu Sita.
@@@
Saat itu, bapak membetulkan letak duduk, menyamankannya, berbicara dengan serius padaku. Mungkin karena aku anak sulung bapak. Jika sudah seperti ini kebiasaanku bukan hanya menjadi pendengar yang baik tapi juga melihat ekspresi bapak. Aku membaca setiap inci otot wajah bapak yang berubah-ubah, tak lupa juga aku menerjemahkan setiap gerakan tubuhnya.
            “Bapak akan membujuk simbah untuk tinggal dirumah ini.” Aku terdiam. Bukan apa-apa, aku juga sayang simbahku. Aku hanya sedang berpikir tentang rencana simbah tidur di rumah kami. Sambutan apa yang nantinya akan aku lakukan.
Aku rela kok. Sebab, demi aku, simbah rela berhenti nginang. Sewaktu kecil aku sangat takut sekali melihat warna merah seperti darah di mulut simbah. Kata ibu, aku sering menangis ketakutan dan simbah pun memutuskan untuk berhenti dari kebiasaan perempuan zaman dulu itu.
Beranjaknya umurku yang ke-22, tentu saja aku tidak lupa, beranjak pula umur simbahku menjadi 82. Sekarang ini beliau sudah tua sekali, pikun, dan kalau bicara sering diulang-ulang. Simbah adalah ibu dari bapakku. “Dua minggu yang lalu simbah jatuh saat kembali dari kamar mandi, ia tidak bisa apa-apa lagi. Sukar bergerak. Kasihan, simbahmu itu cuma tidur di kamarnya, tidak ada yang merawat total. Budhe Ning-mu nggak sabar, pakdhe Karno juga mudah terpancing emosi jadinya malah sering dibentak-bentak. Oalah nduk, orang yang sudah tua itu harusnya diperhatikan. Dicukupkan kebutuhannya.”
Pakdhe Karno adalah kakak ketiga bapak yang sekaligus menempati dan bertempat tinggal bersama simbah. Ahya, bapakku merupakan anak bungsu dari empat bersaudara. Kakak pertamanya, pakdhe Singgih, tinggal di Sragen, berjarak 1 jam dari tempat tinggal simbah. Anehnya, beliau seperti sudah tidak care lagi. Padahal demi Pakdhe Singgih, kata bapak, simbah berkorban apa saja, termasuk menjual harta berharganya. Kakak kedua bapak, pakdhe Parmin ada di Jakarta. Otomatis sangat jarang berada di Karanganyar. Dan entah mengapa simbah selalu tidak betah terlalu lama berada dirumah kami meski beliau mengaku senang.
Dan, usut punya usut ternyata Budhe Ning mengatakan hal yang membuat hati simbah sakit karena hal yang dikatakan budhe tidaklah benar. Itu hasil analisisku. “Uwis ra usah nggolek omah sik luwih apik. Neng kene wae, omah-omahe dhewe.” (sudah tidak usah mencari rumah yang lebih bagus. Di sini saja, rumahnya sendiri).
@@@
            Urusan bujuk membujuk akhirnya membuahkan hasil. Simbah mau di bawa ke rumah kami meski tidak sepekan full. Hanya lima hari. Hal yang tak kulupakan dari simbah adalah suara kekehnya. Tiap kali aku berkunjung atau simbah yang berkunjung, mencium tangannya takzim, memeluk dan mengecup kedua pipinya yang bergelambir, ia selalu saja terekeh. Suara kekeh yang lucu.
            Tentu saja hal itu tidak mudah. Aku adalah sulung dari tiga bersaudara. Dan adikku yang pertama –kelas 2 SMK- tidak begitu setuju jika simbah harus menginap. Sedangkan adikku yang satunya setuju-setuju saja, dia sih masih kecil, kelas 2 SD.
            Kali pertama simbah datang, tertatih berjalan dengan di tuntun bapak. Aku mulai sadar seberapa renta simbahku kini. Dan kesadaranku itu bertambah jelas ketika bapak memintaku melanjutkan menuntun simbah. Tubuh simbah benar-benar gemetar, terkadang tatihnya membuat simbah seperti hendak oleng. Tubuhnya yang dulu lumayan gemuk, sekarang seperti tubuh yang hanya dililit kulit. Kurus. Rambutnya putih utuh. Tak ada lagi hitam yang dulu sering aku mainkan.
             Tiap kali aku melakukan hal-hal yang telah dilakukan bapak atau ibu pada simbah selalu aku catat baik, atau hal-hal yang kemudian aku lakukan untuk simbahku.
            Jika kamu mau tahu apa yang akan dilakukan orang padamu, kamu bisa melihatnya dari bagaimana kamu memperlakukan orang lain itu. Kalimat itu segera aku cetak tebal di buku harian. Menanamkannya dalam hati. Yah, seperti pelajaran sewaktu aku duduk di kelas satu SMP saat ibu guru bahasa Indonesia berkata barangsiapa menanam dia juga yang akan menuai. Atau saat guru TPQ berkata Allah pasti tahu apapun yang akan kita tanam dan akan memberikan balasan.
@@@
            “Menguap terus dari tadi, kenapa sih?” aku menghapus titik-titik air mata yang menyembul. Reaksi dari beberapa kali aku menguap. Riana menunjukkan muka bertanya. Yah, memang tidak biasanya aku menguap saat kuliah. “Begadang?”
            Aku hanya menanggapinya dengan tertawa.
“Seingatku tidak ada tugas yang mengharuskanmu begadang.”
Aku mengangguk.
“Terus kenapa dong?”
“Semalam cuma bisa tidur setengah jam.”
“Yang bener? Kamukan putri tidur.” Mendapat julukan seperti itu aku hanya tertawa kecil. Yah, Riana memang sohibku, tahu benar kebiasaanku di pesantren dulu. Jangankan Riana, Ustadzah kalau ketemu aku mesti bilang. Oh, ini ya si putri tidur. Bukan maksudku begitu, tapi malam adalah waktu siangku. Malam lebih membuatku bisa berkonsentrasi, tanpa ada kegaduhan, apalagi jika aku harus menyetor muka dan hafalan dua lembar per dua hari. Jadi aku harus menahan kantuk di kelas, di perpustakaan, dan bahkan saat mengantri untuk menyetor.
“Simbahku tidur di rumahku. Dan maunya beliau ditemani. Beliau nggak tidur, tidur sebentar, dan cerita banyak-banyak. Aku mau bangunin ibu atau bapak, kasihan. Seharian sudah bekerja. Maka aku yang memutuskan untuk menemani simbah.”
Riana tertawa menampakkan lesung pipitnya yang manis. “Wah, asyik dong.”
“Iya, asyik. Tapi cerita simbahku itu diulang-ulang terus.”
“Yah, yang sabar aja.”
@@@
Lama-kelamaan –berjalan enam bulan-, aku yang tadinya begitu sabar. Mulai kehilangan kendali. Simbah berubah, begitupula suasana hatiku. Mungkin karena ketuaannya. Kepikunannya. Kesendiriannya. Ia berubah jadi anak-anak. Suka merengek, manja, apa-apa jadi salah. Aku yang terkadang baru pulang kuliah dengan kelelahan luar biasa setelah praktikum biologi dihadapkan dengan permintaan simbah yang neko-neko, membuatku terkadang menghela napas berat, dan mulai beratlah kebiasaanku meladeni beliau. Dulu sih aku sabar-sabarkan tapi entahlah.
            “Kesabaran manusia itu ndak ada batasnya nduk.” Nasihat ibu aku cerna dan rekam dalam memori. Tapi yang ada adalah penolakan.
            “Ada bu. Suatu ketika manusia akan memiliki titik jenuh. Dan mungkin saat inilah titik jenuhku.” Aku sudah tidak memikirkan apakah ibuku mampu mencerna kata-kataku, yang aku tahu saat ini aku sedang jengkel. Tapi dugaanku ternyata salah, nyatanya ibu berkata padaku tentang keikhlasan.
            “Kau tahu nduk, rasa rela saja tidak cukup, harus diimbangi dengan keikhlasan.”
            Entah aku musti tertawa atau menangis. Aku pun memutuskan, jika simbah berada di rumah kami, aku akan melamakan diriku di kampus. Melakukan hal yang sama dilakukan adik pertamaku. Bedanya, kalau adikku itu pulang sekolah, kerumah, makan, dan pergi main. Bukankah terkadang teori lebih mudah diucapkan daripada dilaksanakan. Tanpa kesadaran yang pasti egoku mulai ditebalkan setan. Entahlah siapa pula yang mengurus simbah saat aku tidak di rumah. Kalau tidak ibu pasti juga bapak, aku tidak mau ambil peduli.
            “Mbak sekarang kenapa jarang di rumah?” Tanya adik kecilku. Menggelanyut manja di pundak. Hari ini simbah tidak di rumah kami.
            “Ada banyak kegiatan di kampus dik.” Jawabku mengelus kepalanya penuh kasih.
            “Simbah nanyain mbak terus.” Katanya, menatapku, mungkin mencari jawaban. Aku tak begitu terkejut. Paling juga di minta ini itu.
            Aku mencubit pipinya yang gembul. “Ohya? Yang nyariin mbak tu, simbah atau kamu?” Adikku tertawa mendengar jawabanku. Mungkin juga dua-duanya.
@@@
            Hari ini tidak ada jam kuliah, kosong. Ada rapat dosen. Sedari pagi aku yang tidak begitu memperhatikan jarkoman info jam kosong, meluncur saja ke Solo. Baru sampai di kampus, membuka sms, dan mulai kebingungan mau ngapain. Akhirnya aku arahkan sepeda motorku menuju perpustakaan, kuputuskan mengisi waktu dengan membaca. Setelah bosan membaca aku nggak tahu harus pergi kemana, aku pun pulang.
             Ada desir aneh, sejenis keharuan. Aku sengaja membelokkan langkahku menuju kamarku, kamar yang ditempati simbah kala menginap. Adik kecilku dengan telaten membersihkan mulut simbah yang belepotan roti coklat. Aku menatapnya lama, menatap setiap inci ketelatenan yang dilakukan adik kecilku itu. Ya Allah, begitu kalahnya kedewasaanku dengan adik kecilku itu. Entah mengapa aku merasa ada sesuatu yang merembas dari mataku. Ah aku pun menyapu air mata.
            Reflek kugerakkan tanganku cepat tatkala kulihat adikku hampir menjatuhkan piring yang berada tepat disampingnya, aku membenarkan piring tersebut.
            “Mbak.” Adikku tersenyum sumringah melihat kearahku. Aku peluk kepalanya dan tersenyum. “Mbah, mbak Dea pulang.” Kata adikku. Mengambil tanganku dan didekatkan ke tangan simbah.
            “Dea.” Suara simbah memanggilku lirih. Aku mencium takzim tangan simbah. “Kemana saja tho nduk? Sibuk apa kamu di sekolah? Simbah pingin ketemu kamu, kok ya sulit sekali.”
            Aku terdiam, tersenyum samar, lebih kepada rasa bersalah daripada rasa kesal. “Maaf mbah.” Yang kulihat di mata simbah adalah sesenggukannya. Simbah menangis. Meski tanpa air mata. Beliau memelukku erat.
            “Mbah itu, sering nanyain mbak Dea terus. Tapi udah Icha bilang, kalau mbak Dea sedang banyak tugas kuliah dan organisasi makanya tidak bisa cepat pulang, gitu mbak.”
            “Ada apa ini? Mbak Dea udah pulang? mau teh hangat juga?” Tanya adik pertamaku, masuk kekamar membawa gelas berisi teh hangat. Ekspresi pertamaku adalah keterkejutan, tentu saja. Jawaban untuk tawaran adikku adalah sebuah gelengan.
Terenyuh sekali aku, melihat adik yang paling berontak, kini dengan lembutnya merawat simbah. Yaa muqolibal qulub. Sungguh Engkau Allah yang Maha membolak-balikan hati, aku pinta untuk meneguhkan hatiku untuk selalu menjadi baik, terus baik, dan istiqomah baik. Layaknya yang telah Engkau lakukan pada adik pertamaku itu.
Aku tidak sedang memperhatikan simbah. Sekarang ini aku hanya menyesapi kerinduan simbah padaku. Suara gemerasak radio meningkahi suasanaku sekarang. Lamat kudengar suara seorang dai kondang memberikan ceramahnya yang membahas mengenai qur’an surat Al Isro 23, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu dan bapak. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik”.
            Lamat pula aku melihat kilasan waktu, ketika simbah memintaku untuk menemaninya kala malam. Tilawah sehari satu juzku teratur, tahajudku lebih produktif, aku bisa sahur untuk puasa daud, dan tentu saja sholat fajar yang tak pernah tertinggal. Tapi setelah aku tidak begitu memperhatikan simbah semuanya kacau. Sekarang boro-boro gitu, tidurku begitu pulas sampai tidak bisa melakukan target ibadah harian. Jangankan satu juz, enam lembar saja sudah ngos-ngosan, sholat tahajud berlubang, fajar juga kalau nggak kesiangan bangun.
Aku menundukkan wajah, mengepalkan kedua tangan di depan dada. Mengucap azam. Baiklah, azamku ini semakin membulat, mumpung setan belum masuk lagi, aku akan memperbaiki kesalahanku, belajar keikhlasan dari adik kecilku, juga adik pertamaku. Bukan hanya saja rela tapi ikhlas, begitukan bu.
Setelah mengucap azam, senyumku tak putus-putus sembari menuangkan rasa terima kasih pada Allah. Terima kasih Allah atas pelajaran kehidupan ini. Pelajaran yang tak kan pernah kudapatkan di manapun bahkan di bangku kuliah. Dan terima kasih memberiku guru terbaik di kehidupan, keluargaku. Rasa terima kasih yang tak jua terputus sampai aku memutuskan untuk bergabung di LSM, esok hari nanti.
Khansa, 290413, 23:45 WIB

SELESAI

Juara 3 tahun 2013

Himpunan Mahasiswa Psikologi Universitas Sebelas Maret 

kalangan umum