Beberapa
kristal bening Mamak jatuh menelisip, lalu luruh ke tanah. Tumbuhlah dihatinya
semak-semak berduri dari air yang telah luruh. Mamak, wanita itu, meluruhkan
segala kepekatan luka. Pekat yang pedih. Masih kudengar jelas utara Mamak kepadaku,
tentang kebenciannya, tentang laranya, juga tentang kutukannya pada angin.
Suatu ketika perlahan aku lebih menyadarinya dengan kepekatan luka yang semakin
kentara.
“KAU...KAU...”
Mamak menunjuk ke arahku, menunjukkan amarah yang tak biasa, matanya berkilat.
“Bersumpahlah demi Mamakmu ini.” Suara halusnya bergetar.
“Maak...”
Rajukku tak suka, “Mamak, bagiku bersumpah tak semudah membalikkan telapak
tangan. Jadi bisakah Mamak memadamkan bara itu dan biarkan aku menghujamkan
kakiku menjadi akar di sini.”
“BERSUMPAHLAH!
DEMI MAMAKMU INI! DEMI SELURUH HIDUP MAMAK YANG TELAH KAU PAHAMI TAPAKNYA.”
Mamak seakan tak mendengar penjelasanku. Aku
menatap mata nanar Mamak. Ada bongkahan kristal yang masih setia mengambang di
sana. Hati anak siapa yang tega melihat ibu yang membesarkan penuh kasih
terluka semacam itu. Jika kuturutkan nafsu dendamku, tentu binasalah angin. Aku
masukkan ia ke dalam toples, tepat di ruang kedap udara. Maka tak lama ia akan
tiada. Maka segala luka Mamak akan menguar sejalan dengan adanya ruang kedap
udara.
“JANGAN
KAU LIHAT MATA MAMAK SAJA, LIHAT MATA HATI MAMAKMU INI.” Setiap kali Mamak
bicara dan tak mendapatkan apa yang ia inginkan, nada bicaranya akan naik satu
oktaf. “BENING. KAU TAHU DENGAN PASTI, DI SANALAH KAU DILAHIRKAN DAN BERKEMBANG.
KINI KAU PUN TERUSIR DARI RAHIM YANG MEMBESARKANMU. LIHAT YANG TERJADI PADA
APAKMU PULA.”
Bening,
demikian Mamak memanggilku. Namaku, juga kisah ini sepertinya bisa dibilang
bertaut. Kisah bagaimana kutukan Mamak pada angin begitu melekat. Kisah ini bermula
saat aku belum tercipta. Aku tahu, sebab Mamak selalu menceritakannya dengan
bara yang sama, membakar setiap inci kehidupannya, bahkan sampai aku bertambah
usia. Serta kisah Apak atas namaku.
§§§
Bagi Mamak, hal yang perlu ia beri benang merah
tanda duka adalah bayangan. Dari bayanganlah kau tahu dengan pasti sesuatu yang
kau jaga tak bisa nyata ada. Sialnya, bayangan itu melingkupi angin yang
datangnya dari kampung kelahiran. Maka bermulalah kisah kutukan Mamak pada
angin.
Saat itulah angin datang ketika Mamak mulai
merasakan kesemutan yang menjalar, luka borok, bahkan jari jemarinya mulai
pupus. Angin menghancurkan Mamak. Mereka mengepung Mamak dengan tatapan mata
pisau, cemoohan penuh nanah, hingga pengusiran. Awalnya Mamak, Apak, dan aku
berusaha bertahan, tapi terjangan angin menghebat. Mereka layaknya moksa
binatang. Angin menyandangkan gelar kutukan pada Mamak. Tanpa mereka tahu bagi
Mamak kutukan yang sebenarnya terjadi adalah tersebab pengutuk, dan bukan tersebab
sakitnya.
Tak lama titah pengusiran turun. Mamak, luka hati
penuh memar. Apak yang dirunduk kemurungan. Aku yang diliput pedih. Mata air
air mata kami. Juga kutukan yang kemudian Mamak lontar dan camkan. Aku tahu
dengan pasti bagaimana luka itu tertoreh. Bagaimanapula ketika Mamak meracau
tak tentu tentang laranya.
Pedihnya, Mamak dan Apak tak akan pernah bisa
kembali ke tanah yang dulu menimangku. Bahkan ketika Mamak dan Apak berusaha
keras selama empat tahun di sebuah rumah sakit khusus penanganan penyakit Mamak
hingga semua lukanya sembuh. Kau pikir kami tidak mencoba kembali. Pada
akhirnya kami diusir ke hutan pembuangan. Satu tahun kami mencoba hidup
sederhana, berpikir sederhana, dan menikmati hutan yang menyediakan
kesederhanaan. Tapi tidak dengan Mamak, kutukannya menjadi bola salju yang
semakin digelindingkan semakin besar.
Apak menggaruk kepalanya keras dan cepat seperti
garukan terhadap bayangan gelap tentang kutukan istrinya, seperti hasil garukan
yang hendak ia singkirkan dengan lekas. Saat itu aku genap berusia 17 tahun.
Mengerti benar cara membaca gerak. Sedangkan aku, dendam tetap dendam bukan?
Demi cinta, aku melakukan ini. Aku memintal doa Mamak untuk menggulung semua angin.
Tanpa kecuali, meski satu diantaranya pernah menjadi sebilah hatiku. Mada.
§§§
Dan
kini, aku berdiri menantang matahari. Tepat berada di ujung barat. Tepat pula
membuat siluet gundukan makam Apak terlihat diliputi suasana magis. Tidak,
tidak, bukan seperti itu ceritanya jika kau berpikir Apakku mati bunuh diri,
Apak terlalu mulia untuk itu. Apak dibunuh angin yang merisau. Mamak, aku,
sekarang ini seperti menunggu giliran. Kapan nyawa kami tercerabut ataupun
dicerabutkan. Sebab angin yang merisau meluas. Gencar membuat kami seperti
mangsa buruan.
Kejadian
itu seperti rencana Tuhan. Awalnya Apak menyamar menjadi pedagang di pasar,
rindu Apak pada masyarakat telah begitu rekatnya. Tak tahu bagaimana caranya
mereka tahu lelaki itu adalah Apak dan mengusirnya dengan kekasaran binatang.
Mereka kira Apak pembawa malapetaka. Lagi-lagi Apak meneguk kepedihan akibat
pengusiran juga hinaan. Setelahnya kejadian itu tentu juga atas garis Tuhan,
banyak orang terserang penyakit macam-macam. Mamak sebut itu karma. Apak sebut
itu pembilasan dosa. Apak tak melakukan apa-apa, sungguh, entah mengapa mereka
bisa mengalami hal itu. Bukankah aku tak boleh bertanya tentang takdir?
Setelahnya
dapat ditebak, angin menjadi lebih ganas. Menyelisipkan tubuhnya bahkan di
dalam rumah kami, rumah yang dibangun Apak dengan kesederhanaan alam sekitar.
Kedatangan mereka menebar ketakutan, tepatnya bukan pada kami, tapi jiwa mereka
sendiri. Aku tahu dengan pasti lewat tatapan mata mereka, kau tahu aku bisa
membacakan bahkan meski itu bahasa tubuh. Hah, aku sudah berumur 17, aku
terlalu banyak belajar tentang kematian. Mungkin Apak memang jauh hari
menyiapkanku untuk itu. Situasi ini tak bisa dipungkiri akan terjadikan.
Situasi yang akan menjatuhkan keluarga kami lagi.
Apak menatapku -kebiasaan bercakap menatap mata
dan gerakanku pun diwariskan dari beliau- mencari senyum yang telah lama
kutanggalkan. Yah sewaktu semua belum terjadi, mataku seringkali tersenyum bahkan
tertawa, mata bibir hati dan semua inderaku. Apak sangat menyukainya. “Tersenyumlah
sayang, jangan pernah biarkan dunia merenggut senyum surgamu.”
“Bukan
dunia yang merenggut Apak, hanya saja aku sedang menyimpannya.” Aku menangkupkan
tangan yang berada di bawah permukaan meja. Kedua ibu jariku bersisian, saling
memutar berlawanan.
“Terlalu
lama. Tak inginkah kau berbagi bahkan dengan Apakmu ini?”
“Apaak.”
“Aah
yaa... Apakmu ini merindukan masa lalu yang damai. Ketika Mamakmu masih
selembut kembang gula. Ketika kamupun tak pernah melepaskan senyum surgamu itu.
Apak kepanasan di sini, banyak bara. Tidak bisakah kita melepaskannya, hmm.”
“Apaak.”
“Bening.
Seperti apapun bentuknya ketidaknyamanan kau menjalani hidup, jadilah jiwa yang
pemaaf. Sebab dia adalah hati yang bening. Apakmu beri nama kau itu sebab Apak
ingin kau selalu bening, penuh ketulusan,” Apak mengambil jeda, “Ya Bening ya.”
§§§
“Penyakit
terkutuk itu telah mengalir dalam darah kalian. Itulah alasan kami merasakan
bahwa kami harus mempertahankan hidup. Kalian pembawa kematian harus pula mati
terlebih dahulu.” Gusarnya angin menukik keleherku. Saat ini Mamak sedang pergi
ke ujung desa yang sungai jernihnya mengalir indah. Mengambil persediaan air.
“Pengecut!
Kalian takut mati.” Mataku memerah. Belati yang selama empat tahun ini telah
aku asah dengan baik, aku simpan dibalik bajuku. “Kematian itu satu, angin.
Jangan sombong untuk bisa hidup. Kau telah salah memakai gaunmu. Sebab gaun itu
milik Tuhan. Kematian itu satu, itu artinya kepastian. Hanya saja jalan untuk
kesana sangat banyak.”
Mereka
tertawa. Tawa sumbang memuakkan hingga perutku mual. Mereka mulai
mengerubungiku dengan badik, memposisikan diri menikam sempurna. “Kau pikir
kami tak bisa mencerabutkan nyawamu, hah!”
Gelenganku
pelan, perlahan menguat, membuat tawaku tak terkendali. “Insting binatang
membuat kalian menjadi binatang.”
“GADIS TERKUTUK!” teriak mereka membabi buta. Satu
sama lain saling berebut menikam. Nafasku terhenti saat itu. Tersenggal cepat.
Nafas satu-satuku memburu, demikian juga dengan tikaman mereka. Kekuatan mereka
sejuta kali dari anganku. Belati mereka kupegang satu-satu pula. Kukerjapkan
mataku cepat. Bayangan hitam di balik tubuh mereka seperti merapal mantra.
Mantra kutukan yang sama seperti dilakukan Mamak. Aku tidak tahu jika
sesungguhnya kutukan Mamaklah yang membuat kekuatan setan mereka menguat.
Kebencian Mamak, dendam Mamak, pembalasan Mamak, kesakitan Mamak, bahkan
seluruh hidup Mamak digunakan untuk semua hal itu.
§§§
“Ya
Apak.”
“Bagimu
Bening, apa arti sebuah ketulusan?”
Aku terdiam, menekuri kedua tanganku yang
menangkup. Pertanyaan Apak seperti serbuan seribu jarum. Aku sudah lupa, mungkin
juga aku benar-benar tidak tahu apa artinya. Ketulusan, aku tak menemukan
definisi yang tepat.
“Bening. Bagi Apakmu ini ketulusan itu, jika kau
bisa melakukan apapun tanpa hasrat balasan tertentu. Ketulusan itu, jika kau
bersedia menyembuhkan luka tanpa tersisa bara sekecil apapun. Ketulusan itu,
merelakan jiwamu menjadi pemaaf. Kau tahu apa yang nantinya terjadi?”
Perlahan kepalaku menggeleng. “Kedamaian,
ketenangan, kelembutan, kepekaan, kehangatan, dan tentu kebahagiaan. Semua rasa
yang mudah sekali menguap jika kau tak punya ketulusan.”
Entah mengapa, setiap kali Apak bicara tiba-tiba
kata-katanya selalu berubah menjadi kunci-kunci di sebuah padang. Angin di sana
berkesiur. Aku memegang jaring. Kunci-kunci itu terbang. Aku mencoba
menangkapnya dengan kesusahan. Kunci Apak membuka satu pintu dari jutaan pintu
yang seiring bara Mamak tertutup bagi kebahagiaan. Bagiku tabu bahagia sedang
Mamak dilingkari tarian kutukan. Dan Apak telah berhasil membuka dari sekian
pintu bernama mata hatiku.
Aku usap batu nisan Apak, “Apak, Bening lupa
bagaimana rasanya kebahagiaan itu. Saat Apak berkata-kata, pasti sering
mendapati Bening terdiam, saat itulah sebenarnya Bening merenung. Setiap kunci
yang Bening temukan dari Apak, tiba-tiba satu per satu menemukan jalan untuk membuat
hati Bening kembali tersenyum. Apak, Bening pikir ketulusan itu sungguh
bertalian dengan kebahagiaan. Terima kasih Apak telah mengajari Bening. Bening
bisa tulus tapi itu belum seratus masih lima puluh, Bening masih butuh belajar.
Bening juga masih belajar lebih tahu cara membuat Mamak menjadi selembut
kembang gula seperti dulu. Iyakan Apak? Apak bahagia?”
§§§
Sebuah bayangan melesat ketika aku mundur beberapa
langkah. Tubuh yang aku tahu betul milik siapa. Aku mulai awas dengan belatiku.
Semua terjadi begitu cepat hingga aku rebah ke tanah bersama tubuh Mada. “Tidaaaak,”
kristalku mengalir, “Madaaaaa, apa yang telah kau lakukan?” tubuhnya basah
darah, basah air mataku.
“Be...ning, ca... tatlah dan ing, at. Ti...dak
sem...ua ma..nu..sia menjadi a..ngin. A..ku ada...lah po.hon yang ko...koh
untuk se...buuaah ke..yakinan. Perc...caya...lah.” Aku menggigit bibir. Di
langit aku seperti melihat Apak mengulurkan tangan. Bukan untuk menyambutku
tapi memberi kekuatannya. Kedamaian, ketenangan, kelembutan, kepekaan, kehangatan,
dan tentu kebahagiaan. Semua hal itu juga ketulusan yang selalu dibisikkan
Apak. Aku sarungkan kembali belatiku. Memejamkan mata, entah apa yang akan
terjadi padaku. Biarlah langit yang mengurusnya.
SELESAI
Al-Khansa
300613, 10.09
Menang
juara 1 Lomba Festifal Budaya FSSR UNS 2013



