"Nak, izinkan istrimu yang telah berjuang melahirkan anakmu untuk beristirahat."
Ini hanya isi hati seorang ibunda. Yang memiliki anak laki-laki. Dan sadar betul, jika Allah mengizinkan, anak laki-lakinya kelak akan menjadi seorang suami.
Perempuan memang dikenal multitalenta dan lentur. Tapi tidak untuk saat pasca ia melahirkan. Meskipun masyarakat pada umumnya, menuntut perempuan untuk jangan 'bermalas-malasan' dalam keadaan apapun.
Langsung bisa gerak. Tandang gawe. Gercap kembali mengurus urusan anak bayi, suami, dan dapur.
Barulah segala puja puji masyarakat tersemat dalam diri si ibu bayi. "Hebat banget ya dia, habis melahirkan lho. Eh dia padahal lahirin normal. Tanpa sobekan dan jahitan."
"Dia dua jam pasca melahirkan, pulang dari klinik bawa bayi sendiri naik motor ke rumah. Itu baru ibu hebat. Kayak aku dulu gitu juga."
Kalau tidak. Pastilah kasak-kusuk dibelakang. Membuat kuping gerah.
Perempuan melahirkan, entah dia normal atau sectio tetaplah perempuan yang berjuang. Berjuang mengalahkan dirinya, ketakutan, dan kekhawatiran pada bayinya. Jangan bebani lagi dengan kasak kusuk itu.
Bunda pernah dengar istilah baby blues syndrom, power post partum. Itu kaitan dengan tingkat depresi pasca melahirkan
Maka untuk menjaga kewarasan, biarkan ia merasakan manisnya menjadi ibu. Doakan yang baik. Tumbuhkan semangat, agar ia merasa nyaman dan aman. Terutama saat ia membersamai moment berharga bersama bayinya.