Minggu, 21 September 2014

SILABUS EKSTRAKURIKULER TEATER

     Silabus merupakan perencanaan agar pembelajaran dapat fokus dan terarah. Pada silabus ekstrakurikuler teater tercakup kegiatan yang dapat dilaksanakan selama 20 kali pertemuan. Selama itu, akan dipelajari unsur-unsur penting untuk pembentukan peran. 

      Sifatnya yang Dulce et Utile, maka program pelatihan ini akan dilakukan dengan membangun suasana  rileks, menyenangkan, dan membuka peluang yang selebar-lebarnya bagi pelatih/instruktur, peserta, dan unsur-unsur pendukung lainnya untuk bereksperimen, berekplorasi, sampai menemukan hakekat pemeranan yang sebenarnya.


SILABUS EKSTRAKURIKULER
TEATER

NO
Jenis Kegiatan
Materi Kegiatan
Pertm.
Ketr
1
Pengantar Umum
a. Dramaturgi
b. Trilogi Drama
c. Unsur-unsur Drama
d. Proses Pembentukan dan Penggarapan
I (2 X 60 menit)
2
Pelatihan Dasar I
a. Konsentrasi
b. Pernafasan
c. Vokal
d. Dialog
II (2 X 60 menit)
3
Pelatihan Dasar II
a. Mimik dan pantomimik
b. Ekspresi
c. Pengembangan dialog
III (2 X 60 menit)
4
Pelatihan Dasar III
Suara dan Ucapan
a. Penampilan suara
b. Letupan suara
c. Diksi
d. Tekanan
e. Bangun ucapan
IV dan V (2 X 120 menit)
5
Pelatihan Dasar IV
Karakterisasi
VI (2 X 60 menit)
6
Pelatihan Dasar V
Pengembangan Karakter
(1)
VII (2 X 60 menit)
7
Pelatihan Dasar VI
Pengembangan Karakter (2)
VIII (2 X 60 menit)
8
Pelatihan Dasar VII
Movement (1)
a. Jenis Movement
b. Tekanan dan Kekuatan
c. Akhir Movement
IX (2 X 60 menit)
9
Pelatihan Dasar VIII
Movement (2)
d. Panjang Movement
e. Patokan Movement
X (2 X 60 menit)
10
Pelatihan Dasar IX
Blocking
XI (2 X 60 menit)
11
Pelatihan Dasar X
Akting dasar (1)
a. Motivasi
b. Focus of interest
c. Over-acting
XII (2 X 60 menit)
12
Pelatihan Dasar XI
Akting dasar (2)
d. Gestrure
e. Business
f. Ekspresi wajah
g. Keterampilan kaki
XIII (2 X 60 menit)
13
Pelatihan Dasar XII
Tata dan teknik pementasan
a. Jenis dan bentuk panggung
b. Batasan-batasan panggung
c. Pengaturan panggung
d. Blocking panggung
XIV (2 X 60 menit)
14
Evaluasi
Evaluasi kemampuan praktis peserta
XV (2 X 60 menit
Individu maupun kelompok
15
Pelatihan Pengembangan
(1)
Aktor
a. Teknik
b. Penciptaan tokoh
c. Delapan langkah aktor
XVI (2 X 60 menit)
16
Pelatihan Pengembangan
(2)
Penyutradaraan
a. Siapakah Sutradara
b. Tugas-tugas Sutradara
c. Teknik penyutradaraan drama konvensional
XVII (2 X 60 menit)
17
Pelatihan Pengembangan
(3)
Kolektivitas
a. Drama sebagai seni kolektif
a. Teknik pengembangan kelompok
XVIII (2 X 60 menit
18
Pementasan
Catatan:
  1. Program kerja pelatihan dasar Drama tersebut di atas dilaksanakan efektif dalam satu semester, dan dilaksanakan minimal 1 X dalam satu minggu
  2. Program tersebut dilaksanakan dengan ratio; praktik langsung sebanyak 80% dan teori 20 %
  3. Keberhasilan diukur melalui kedisiplinan berlatih, tingkat ketrampilan dan praktik individual yang diperoleh, serta kerjasama kelompok.
  4. Evaluasi dilaksanakan selama proses kegiatan berlangsung dan melalui uji coba pemeranan baik individu maupun kelompok.
  5. Kesuksesan program tersebut bergantung pada keseriusan peserta dalam berlatih, kemampuan pelatih, dan dukungan dari berbagai pihak
This entry was posted in

Minggu, 10 Agustus 2014

MENGUTUK ANGIN



          Beberapa kristal bening Mamak jatuh menelisip, lalu luruh ke tanah. Tumbuhlah dihatinya semak-semak berduri dari air yang telah luruh. Mamak, wanita itu, meluruhkan segala kepekatan luka. Pekat yang pedih. Masih kudengar jelas utara Mamak kepadaku, tentang kebenciannya, tentang laranya, juga tentang kutukannya pada angin. Suatu ketika perlahan aku lebih menyadarinya dengan kepekatan luka yang semakin kentara.
          “KAU...KAU...” Mamak menunjuk ke arahku, menunjukkan amarah yang tak biasa, matanya berkilat. “Bersumpahlah demi Mamakmu ini.” Suara halusnya bergetar.
          “Maak...” Rajukku tak suka, “Mamak, bagiku bersumpah tak semudah membalikkan telapak tangan. Jadi bisakah Mamak memadamkan bara itu dan biarkan aku menghujamkan kakiku menjadi akar di sini.”
          “BERSUMPAHLAH! DEMI MAMAKMU INI! DEMI SELURUH HIDUP MAMAK YANG TELAH KAU PAHAMI TAPAKNYA.”
Mamak seakan tak mendengar penjelasanku. Aku menatap mata nanar Mamak. Ada bongkahan kristal yang masih setia mengambang di sana. Hati anak siapa yang tega melihat ibu yang membesarkan penuh kasih terluka semacam itu. Jika kuturutkan nafsu dendamku, tentu binasalah angin. Aku masukkan ia ke dalam toples, tepat di ruang kedap udara. Maka tak lama ia akan tiada. Maka segala luka Mamak akan menguar sejalan dengan adanya ruang kedap udara.
          “JANGAN KAU LIHAT MATA MAMAK SAJA, LIHAT MATA HATI MAMAKMU INI.” Setiap kali Mamak bicara dan tak mendapatkan apa yang ia inginkan, nada bicaranya akan naik satu oktaf. “BENING. KAU TAHU DENGAN PASTI, DI SANALAH KAU DILAHIRKAN DAN BERKEMBANG. KINI KAU PUN TERUSIR DARI RAHIM YANG MEMBESARKANMU. LIHAT YANG TERJADI PADA APAKMU PULA.”
          Bening, demikian Mamak memanggilku. Namaku, juga kisah ini sepertinya bisa dibilang bertaut. Kisah bagaimana kutukan Mamak pada angin begitu melekat. Kisah ini bermula saat aku belum tercipta. Aku tahu, sebab Mamak selalu menceritakannya dengan bara yang sama, membakar setiap inci kehidupannya, bahkan sampai aku bertambah usia. Serta kisah Apak atas namaku.
§§§
Bagi Mamak, hal yang perlu ia beri benang merah tanda duka adalah bayangan. Dari bayanganlah kau tahu dengan pasti sesuatu yang kau jaga tak bisa nyata ada. Sialnya, bayangan itu melingkupi angin yang datangnya dari kampung kelahiran. Maka bermulalah kisah kutukan Mamak pada angin.
Saat itulah angin datang ketika Mamak mulai merasakan kesemutan yang menjalar, luka borok, bahkan jari jemarinya mulai pupus. Angin menghancurkan Mamak. Mereka mengepung Mamak dengan tatapan mata pisau, cemoohan penuh nanah, hingga pengusiran. Awalnya Mamak, Apak, dan aku berusaha bertahan, tapi terjangan angin menghebat. Mereka layaknya moksa binatang. Angin menyandangkan gelar kutukan pada Mamak. Tanpa mereka tahu bagi Mamak kutukan yang sebenarnya terjadi adalah tersebab pengutuk, dan bukan tersebab sakitnya.
Tak lama titah pengusiran turun. Mamak, luka hati penuh memar. Apak yang dirunduk kemurungan. Aku yang diliput pedih. Mata air air mata kami. Juga kutukan yang kemudian Mamak lontar dan camkan. Aku tahu dengan pasti bagaimana luka itu tertoreh. Bagaimanapula ketika Mamak meracau tak tentu tentang laranya.
Pedihnya, Mamak dan Apak tak akan pernah bisa kembali ke tanah yang dulu menimangku. Bahkan ketika Mamak dan Apak berusaha keras selama empat tahun di sebuah rumah sakit khusus penanganan penyakit Mamak hingga semua lukanya sembuh. Kau pikir kami tidak mencoba kembali. Pada akhirnya kami diusir ke hutan pembuangan. Satu tahun kami mencoba hidup sederhana, berpikir sederhana, dan menikmati hutan yang menyediakan kesederhanaan. Tapi tidak dengan Mamak, kutukannya menjadi bola salju yang semakin digelindingkan semakin besar.
Apak menggaruk kepalanya keras dan cepat seperti garukan terhadap bayangan gelap tentang kutukan istrinya, seperti hasil garukan yang hendak ia singkirkan dengan lekas. Saat itu aku genap berusia 17 tahun. Mengerti benar cara membaca gerak. Sedangkan aku, dendam tetap dendam bukan? Demi cinta, aku melakukan ini. Aku memintal doa Mamak untuk menggulung semua angin. Tanpa kecuali, meski satu diantaranya pernah menjadi sebilah hatiku. Mada.
§§§
          Dan kini, aku berdiri menantang matahari. Tepat berada di ujung barat. Tepat pula membuat siluet gundukan makam Apak terlihat diliputi suasana magis. Tidak, tidak, bukan seperti itu ceritanya jika kau berpikir Apakku mati bunuh diri, Apak terlalu mulia untuk itu. Apak dibunuh angin yang merisau. Mamak, aku, sekarang ini seperti menunggu giliran. Kapan nyawa kami tercerabut ataupun dicerabutkan. Sebab angin yang merisau meluas. Gencar membuat kami seperti mangsa buruan.
          Kejadian itu seperti rencana Tuhan. Awalnya Apak menyamar menjadi pedagang di pasar, rindu Apak pada masyarakat telah begitu rekatnya. Tak tahu bagaimana caranya mereka tahu lelaki itu adalah Apak dan mengusirnya dengan kekasaran binatang. Mereka kira Apak pembawa malapetaka. Lagi-lagi Apak meneguk kepedihan akibat pengusiran juga hinaan. Setelahnya kejadian itu tentu juga atas garis Tuhan, banyak orang terserang penyakit macam-macam. Mamak sebut itu karma. Apak sebut itu pembilasan dosa. Apak tak melakukan apa-apa, sungguh, entah mengapa mereka bisa mengalami hal itu. Bukankah aku tak boleh bertanya tentang takdir?
          Setelahnya dapat ditebak, angin menjadi lebih ganas. Menyelisipkan tubuhnya bahkan di dalam rumah kami, rumah yang dibangun Apak dengan kesederhanaan alam sekitar. Kedatangan mereka menebar ketakutan, tepatnya bukan pada kami, tapi jiwa mereka sendiri. Aku tahu dengan pasti lewat tatapan mata mereka, kau tahu aku bisa membacakan bahkan meski itu bahasa tubuh. Hah, aku sudah berumur 17, aku terlalu banyak belajar tentang kematian. Mungkin Apak memang jauh hari menyiapkanku untuk itu. Situasi ini tak bisa dipungkiri akan terjadikan. Situasi yang akan menjatuhkan keluarga kami lagi.
Apak menatapku -kebiasaan bercakap menatap mata dan gerakanku pun diwariskan dari beliau- mencari senyum yang telah lama kutanggalkan. Yah sewaktu semua belum terjadi, mataku seringkali tersenyum bahkan tertawa, mata bibir hati dan semua inderaku. Apak sangat menyukainya. “Tersenyumlah sayang, jangan pernah biarkan dunia merenggut senyum surgamu.”
          “Bukan dunia yang merenggut Apak, hanya saja aku sedang menyimpannya.” Aku menangkupkan tangan yang berada di bawah permukaan meja. Kedua ibu jariku bersisian, saling memutar berlawanan.
          “Terlalu lama. Tak inginkah kau berbagi bahkan dengan Apakmu ini?”
          “Apaak.”
          “Aah yaa... Apakmu ini merindukan masa lalu yang damai. Ketika Mamakmu masih selembut kembang gula. Ketika kamupun tak pernah melepaskan senyum surgamu itu. Apak kepanasan di sini, banyak bara. Tidak bisakah kita melepaskannya, hmm.”
          “Apaak.”
          “Bening. Seperti apapun bentuknya ketidaknyamanan kau menjalani hidup, jadilah jiwa yang pemaaf. Sebab dia adalah hati yang bening. Apakmu beri nama kau itu sebab Apak ingin kau selalu bening, penuh ketulusan,” Apak mengambil jeda, “Ya Bening ya.”
§§§
          “Penyakit terkutuk itu telah mengalir dalam darah kalian. Itulah alasan kami merasakan bahwa kami harus mempertahankan hidup. Kalian pembawa kematian harus pula mati terlebih dahulu.” Gusarnya angin menukik keleherku. Saat ini Mamak sedang pergi ke ujung desa yang sungai jernihnya mengalir indah. Mengambil persediaan air.
          “Pengecut! Kalian takut mati.” Mataku memerah. Belati yang selama empat tahun ini telah aku asah dengan baik, aku simpan dibalik bajuku. “Kematian itu satu, angin. Jangan sombong untuk bisa hidup. Kau telah salah memakai gaunmu. Sebab gaun itu milik Tuhan. Kematian itu satu, itu artinya kepastian. Hanya saja jalan untuk kesana sangat banyak.”
          Mereka tertawa. Tawa sumbang memuakkan hingga perutku mual. Mereka mulai mengerubungiku dengan badik, memposisikan diri menikam sempurna. “Kau pikir kami tak bisa mencerabutkan nyawamu, hah!”
          Gelenganku pelan, perlahan menguat, membuat tawaku tak terkendali. “Insting binatang membuat kalian menjadi binatang.”
“GADIS TERKUTUK!” teriak mereka membabi buta. Satu sama lain saling berebut menikam. Nafasku terhenti saat itu. Tersenggal cepat. Nafas satu-satuku memburu, demikian juga dengan tikaman mereka. Kekuatan mereka sejuta kali dari anganku. Belati mereka kupegang satu-satu pula. Kukerjapkan mataku cepat. Bayangan hitam di balik tubuh mereka seperti merapal mantra. Mantra kutukan yang sama seperti dilakukan Mamak. Aku tidak tahu jika sesungguhnya kutukan Mamaklah yang membuat kekuatan setan mereka menguat. Kebencian Mamak, dendam Mamak, pembalasan Mamak, kesakitan Mamak, bahkan seluruh hidup Mamak digunakan untuk semua hal itu.
§§§
          “Ya Apak.”
          “Bagimu Bening, apa arti sebuah ketulusan?”
Aku terdiam, menekuri kedua tanganku yang menangkup. Pertanyaan Apak seperti serbuan seribu jarum. Aku sudah lupa, mungkin juga aku benar-benar tidak tahu apa artinya. Ketulusan, aku tak menemukan definisi yang tepat.
“Bening. Bagi Apakmu ini ketulusan itu, jika kau bisa melakukan apapun tanpa hasrat balasan tertentu. Ketulusan itu, jika kau bersedia menyembuhkan luka tanpa tersisa bara sekecil apapun. Ketulusan itu, merelakan jiwamu menjadi pemaaf. Kau tahu apa yang nantinya terjadi?”
Perlahan kepalaku menggeleng. “Kedamaian, ketenangan, kelembutan, kepekaan, kehangatan, dan tentu kebahagiaan. Semua rasa yang mudah sekali menguap jika kau tak punya ketulusan.”
Entah mengapa, setiap kali Apak bicara tiba-tiba kata-katanya selalu berubah menjadi kunci-kunci di sebuah padang. Angin di sana berkesiur. Aku memegang jaring. Kunci-kunci itu terbang. Aku mencoba menangkapnya dengan kesusahan. Kunci Apak membuka satu pintu dari jutaan pintu yang seiring bara Mamak tertutup bagi kebahagiaan. Bagiku tabu bahagia sedang Mamak dilingkari tarian kutukan. Dan Apak telah berhasil membuka dari sekian pintu bernama mata hatiku.
Aku usap batu nisan Apak, “Apak, Bening lupa bagaimana rasanya kebahagiaan itu. Saat Apak berkata-kata, pasti sering mendapati Bening terdiam, saat itulah sebenarnya Bening merenung. Setiap kunci yang Bening temukan dari Apak, tiba-tiba satu per satu menemukan jalan untuk membuat hati Bening kembali tersenyum. Apak, Bening pikir ketulusan itu sungguh bertalian dengan kebahagiaan. Terima kasih Apak telah mengajari Bening. Bening bisa tulus tapi itu belum seratus masih lima puluh, Bening masih butuh belajar. Bening juga masih belajar lebih tahu cara membuat Mamak menjadi selembut kembang gula seperti dulu. Iyakan Apak? Apak bahagia?”
§§§
Sebuah bayangan melesat ketika aku mundur beberapa langkah. Tubuh yang aku tahu betul milik siapa. Aku mulai awas dengan belatiku. Semua terjadi begitu cepat hingga aku rebah ke tanah bersama tubuh Mada. “Tidaaaak,” kristalku mengalir, “Madaaaaa, apa yang telah kau lakukan?” tubuhnya basah darah, basah air mataku.
“Be...ning, ca... tatlah dan ing, at. Ti...dak sem...ua ma..nu..sia menjadi a..ngin. A..ku ada...lah po.hon yang ko...koh untuk se...buuaah ke..yakinan. Perc...caya...lah.” Aku menggigit bibir. Di langit aku seperti melihat Apak mengulurkan tangan. Bukan untuk menyambutku tapi memberi kekuatannya. Kedamaian, ketenangan, kelembutan, kepekaan, kehangatan, dan tentu kebahagiaan. Semua hal itu juga ketulusan yang selalu dibisikkan Apak. Aku sarungkan kembali belatiku. Memejamkan mata, entah apa yang akan terjadi padaku. Biarlah langit yang mengurusnya.
SELESAI
Al-Khansa
300613, 10.09


Menang juara 1 Lomba Festifal Budaya FSSR UNS 2013